Loading

Kata Sambutan Untuk Buku Kenangan

puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa karena akhirnya buku kenangan ini dapat di produksi juga setelah melalui perjuangan yang berat, bermandikan darah dan bertangiskan air hujan. Ini tentuya adalah berkat kerja keras dari teman semua , dan khususnya kepada mereka yang mau repot sana sini, nyari info kesana kemari yang tidak bisa disebutkan satu persatu …………

tak dapat kita ingkari bahwa seiring sengan berjalannya kehidupan kita, seiring dengan datangnya hal hal baru seperti kerja, menikah, dan juga seiring dengan datangnya orang orang baru, teman baru, cowok baru, cewek baru, perpisahan memang hal yang lumrah terjadi…Teman teman yang saya cintai, sebelum kita terlambat menyadari bahwa waktu tak dapat diputar kembali dan sebelum kita menyesal karena telah menyia-nyiakan masa kuliah kita tanpa mengalami satu pun hal berharga. Maka buatlah kenangan sebanyak banyaknya! Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan. Katakanlah apa yang ingin kamu katakan. Katakanlah kepada dosen dosen yang terlalu kaku dalam ngasih materi kuliah untuk lebih santai. Katakanlah kepada orang yang kamu cintai bahwa kamu memang mencintainya!! It’s NOW or NEVER, friends! Come On! As time goes by, memory remains. Seiring berjalannya waktu, hanya kenanganlah yang tersisa….
Bukub memory atau kenangan memang cukup penting dalam dunia pendidikan ..kita bisa melihat para ilmuwan dulu dan para ulama dahulu khususnya para ulama’ hadist..lebih dari itu buku memory ini bisa menjadi kenangan abadi ketika kita sudah kembali ke masyarakatnya masing-masing, dengan membuka buku memory ini maka akan teringat kembali kenangan hidup ketika kita masih kuliah dan kita akan ingat kembali bagaimana semangat kita memupuk cita-cita..
Dengan terbitnya buku kenangan ini intinya kita berharap semoga buku ini menjadi salah satu wasilah kokohnya persaudaraan kita,,khusunya anak kls G.

Kunci Hidup Sukses

"Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu..." (Q. S Ali Imran (3) : 160)

Bagaimana kita memahami pengertian hidup sukses? Dari mana harus memulainya ketika kita ingin segera diperjuangkan?

Tampaknya tidak terlalu salah bila ada orang yang telah berhasil menempuh jenjang pendidikan tinggi, bahkan lulusan luar negeri, lalu menganggap dirinya orang sukses. Mungkin juga seseorang yang gagal dalam menempuh jalur pendidikan formal belasan tahun lalu, tetapi saat ini berani menepuk dada karena yakin bahwa dirinya telah mencapai sukses. Mengapa demikian? Karena, ia telah memilih dunia wirausaha, lalu berusaha keras tanpa mengenal lelah, sehingga mewujudlah segala buah jerih payahnya itu dalam belasan perusahaan besar yang menguntungkan.

Seorang ayah dihari tuanya tersenyum puas karena telah berhasil mengayuh bahtera rumah tangga yang tentram dan bahagia, sementara anak anaknya telah ia antar ke gerbang cakrawala keberhasilan hidup yang mandiri. Seorang kiai atau mubaligh juga berusaha mensyukuri kesuksesan hidupnya ketika jutaan umat telah menjadi jamaahnya yang setia dan telah menjadikannya sebagai panutan, sementara pesantrennya selalu dipenuh sesaki ribuan santri.

Pendek kata, adalah hak setiap orang untuk menentukan sendiri dari sudut pandang mana ia melihat kesuksesan hidup. Akan tetapi, dari sudut pandang manakah seyogyanya seorang muslim dapat menilik dirinya sebagai orang yang telah meraih hidup sukses dalam urusan dunianya?

Membangun Fondasi
Kalau kita hendak membangun rumah, maka yang perlu terlebih dahulu dibuat dan diperkokoh adalah fondasinya. Karena, fondasi yang tidak kuat sudah dapat dipastikan akan membuat bangunan cepat ambruk kendati dinding dan atapnya dibuat sekuat dan sebagus apapun.

Sering terjadi menimpa sebuah perusahaan, misalnya yang asalnya memiliki kinerja yang baik, sehingga maju pesat, tetapi ternyata ditengah jalan rontok. Padahal, perusahaan tersebut tinggal satu dua langkah lagi menjelang sukses. Mengapa bisa demikian? ternyata faktor penyebabnya adalah karena didalamnya merajalela ketidakjujuran, penipuan, intrik dan aneka kezhaliman lainnya.

Tak jarang pula terjadi sebuah keluarga tampak berhasil membina rumah tangga dan berkecukupan dalam hal materi. Sang suami sukses meniti karir dikantornya, sang isteri pandai bergaul ditengah masyarakat, sementara anak-anaknya pun berhasil menempuh jenjang studi hingga ke perguruan tinggi, bahkan yang sudah bekerjapun beroleh posisi yang bagus. Namun apa yang terjadi kemudian?

Suatu ketika hancurlah keutuhan rumah tangganya itu karena beberapa faktor yang mungkin mental mereka tidak sempat dipersiapkan sejak sebelumnya untuk menghadapinya. Suami menjadi lupa diri karena harta, gelar, pangkat dan kedudukannya, sehingga tergelincir mengabaikan kesetiaannya kepada keluarga. Isteripun menjadi lupa akan posisinya sendiri, terjebak dalam prasangka, mudah iri terhadap sesamanya dan bahkan menjadi pendorong suami dalam berbagai perilaku licik dan curang. Anak-anakpun tidak lagi menemukan ketenangan karena sehari-hari menonton keteladanan yang buruk dan
menyantap harta yang tidak berkah.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk merintis sesuatu secara baik? Alangkah indah dan mengesankan kalau kita meyakini satu hal, bahwa tiada kesuksesan yang sesungguhnya, kecuali kalau Allah Azza wa Jalla menolong segala urusan kita. Dengan kata lain apabila kita merindukan dapat meraih tangga kesuksesan, maka segala aspek yang berkaitan dengan dimensi sukses itu sendiri harus disandarkan pada satu prinsip, yakni sukses dengan dan karena pertolongan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan fondasi yang tidak bisa tidak harus diperkokoh sebelum kita membangun dan menegakkan mernara gading kesuksesan.

Sunnatullah dan Inayatullah
Terjadinya sesoang bisa mencapai sukses atau terhindar dari sesuatu yang tidak diharapkannya, ternyata amat bergantung pada dua hal yakni sunnatullah dan inayatullah. Sunatullah artinya sunnah-sunnah Allah yang mewujud berupa hukum alam yang terjadinya menghendaki proses sebab akibat, sehingga membuka peluang bagi perekayasaan oleh perbuatan manusia. Seorang mahasiswa ingin menyelesaikan studinya tepat waktu dan dengan predikat memuaskan. Keinginan itu bisa tercapai apabila ia bertekad untuk bersungguh-sungguh dalam belajarnya, mempersiapkan fisik dan pikirannya dengan sebaik-
baiknya, lalu meningkatkan kuantitas dan kualitas belajarnya sedemikian rupa, sehingga melebihi kadar dan cara belajar yang dilakukan rekan-rekannya. Dalam konteks sunnatullah, sangat mungkin ia bisa meraih apa yang dicita-citakannya itu.

Akan tetapi, ada bis yang terjatuh ke jurang dan menewaskan seluruh penumpangnya, tetapi seorang bayi selamat tanpa sedikitpun terluka. Seorang anak kecil yang terjatuh dari gedung lantai ketujuh ternyata tidak apa-apa, padahal secara logika terjatuh dari lantai dua saja ia bisa tewas. Sebaliknya, mahasiswa yang telah bersungguh-sungguh berikhtiar tadi, bisa saja gagal total hanya karena Allah menakdirkan ia sakit parah menjelang masa ujian akhir studinya, misalnya. Segala yang mustahil menurut akal manusia sama sekali tidak ada yang mustahil bila inayatullah atau pertolongan Allah telah turun.

Demikian pula kalau kita berbisnis hanya mengandalkan ikhtiar akal dan kemampuan saja, maka sangat mungkin akan beroleh sukses karena toh telah menetapi prasyarat sunnatullah. Akan tetapi, bukankah rencana manusia tidak mesti selalu sama dengan rencana Allah. Dan adakah manusia yang mengetahui persis apa yang menjadi rencana Nya atas manusia? Boleh saja kita berjuang habis-habisan karena dengan begitu orang kafirpun toh beroleh kesuksesan. Akan tetapi, kalau ternyata Dia menghendaki lain lantas kita mau apa? mau kecewa? kecewa sama sekali tidak mengubah apapun. Lagipula, kecewa yang timbul dihati tiada lain karena kita amat menginginkan rencana Allah itu selalu sama dengan rencana kita. Padahal Dialah penentu segala kejadian karena hanya Dia yang Maha Mengetahui hikmah dibalik segala kejadian.

Rekayasa Diri
Apa kuncinya? Kuncinya adalah kalau kita menginginkan hidup sukses di dunia, maka janganlah hanya sibuk merekayasa diri dan keadaan dalam rangka ikhtiar dhahir semata, tetapi juga rekayasalah diri kita supaya menjadi orang yang layak ditolong oleh Allah. Ikhtiar dhahir akan menghadapkan kita pada dua pilihan, yakni tercapainya apa yang kita dambakan - karena faktor sunnatullah tadi - namun juga tidak mustahil akan berujung pada kegagalan kalau Allah menghendaki lain.

Lain halnya kalau ikhtiar dhahir itu diseiringkan dengan ikhtiar bathin. Mengawalinya dengan dasar niat yang benar dan ikhlas semata mata demi ibadah kepada Allah. Berikhtiar dengan cara yang benar, kesungguhan yang tinggi, ilmu yang tepat sesuai yang diperlukan, jujur, lurus, tidak suka menganiaya orang lain dan tidak mudah berputus asa.

Senantiasa menggantungkan harap hanya kepada Nya semata, seraya menepis sama sekali dari berharap kepada makhluk. Memohon dengan segenap hati kepada Nya agar bisa sekiranya apa-apa yang tengah diikhtiarkan itu bisa membawa maslahat bagi dirinya mapun bagi orang lain, kiranya Dia berkenan menolong memudahkan segala urusan kita. Dan tidak lupa menyerahkan sepenuhnya segala hasil akhir kepada Dia Dzat Maha Penentu segala kejadian.

Bila Allah sudah menolong, maka siapa yang bisa menghalangi pertolongan-Nya? Walaupun bergabung jin dan manusia untuk menghalangi pertolongan yang diturunkan Allah atas seorang hamba Nya sekali-kali tidak akan pernah terhalang karena Dia memang berkewajiban menolong hamba-hambaNya yang beriman.

"Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah membiarkan kamu (tidak memberikan pertolongan) maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal" (QS Ali Imran (3) : 160).

Bundel by  UGLY ---

Persahabatan Adalah Segalanya

Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri.

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya…

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.

Ingatlah kapan terakhir kali kamu berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping kamu ?? Siapa yang mengasihi kamu saat kamu merasa tidak dicintai ?? Siapa yang ingin bersama kamu saat kamu tak bisa memberikan apa-apa ??

MEREKALAH SAHABATMU

Hargai dan peliharalah selalu persahabatanmu

Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri.

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya…

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.

Ingatlah kapan terakhir kali kamu berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping kamu ?? Siapa yang mengasihi kamu saat kamu merasa tidak dicintai ?? Siapa yang ingin bersama kamu saat kamu tak bisa memberikan apa-apa ??

MEREKALAH SAHABATMU

Hargai dan peliharalah selalu persahabatanmu

Hakikat da Tujuan Pendidikan

A.    Kedudukan Tujuan Pendidikan

Sebagai suatu kegiatan yang terencana, pendidikan Islam memiliki kejelasan tujuan yang ingin dicapai. Demikian pentingnya tujuan tersebut, sehingga banyak dijumpai kajian yang sungguh-sungguh di kalangan para ahli mengenai tujuan tersebut. Berbagai buku yang mengkaji masalah pendidikan Islam senantiasa berusaha merumuskan tujuan baik secara umum maupun secara khusus.
Dalam pada  itu Marimba (1962: 45-46) menyebutkan ada empat fungsi tujuan pendidikan antara lain:

1.    Tujuan berfungsi untuk mengakhiri usaha. Suatu usaha yang tidak mempunyai tujuan tidaklah mempunyai arti apa-apa. Selain itu usaha mengalami permulaan dan mengalami pula akhirnya. Ada usaha yang terhenti karena suatu kegagalan sebelum mencapai tujuan, tetapi usaha itu belum dapat dikatakan berakhir. Pada umumnya suatu usaha baru berakhir kalau tujuan akhir telah dicapai.
2.    Tujuan berfungsi mengarahkan usaha. Tanpa adanya antisipasi (pandangan ke depan) kepada tujuan, penyelewengan akan banyak terjadi dan kegiatan yang dilakukan tidak akan berjalan secara efesien.
3.    Tujuan dapat berfungsi sebagai titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, yaitu tujuan-tujuan baru maupun tujuan lanjutan dari tujuan pertama. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dari satu segi tujuan itu membatasi ruang gerak usaha, namun dari segi lain tujuan tersebut dapat mempengaruhi dinamika usaha tersebut.
4.    Tujuan berfungsi memberi nilai (sifat) pada usaha itu. Ada usaha-usaha  yang tujuannya lebih luhur, lebih mulia, lebih luas daripada usaha-usaha lain. Hal ini menunjukkan bahwa dalam rumusan setiap tujuan selalu disertai dengan nilai-nilai yang hendak diusahakan perwujudannya. Nilai-nilai ini tentu saja bermacam-macam sesuai dengan pandangan yang merumuskannya. Jika yang merumuskan tujuan tersebut orang muslim yang taat dan luas wawasan keislamannya, tentu saja akan dimasukkan nilai-nilai yang sejalan  dengan ajaran Islam yang dianutnya. Dengan demikian suatu rumusan tujuan pendidikan, harus memiliki muatan subyektifitas dari yang merumuskannya, walaupun subyektifitas ini tidak selamanya berkonotasi negatif.
Dalam hubungannya dengan  fungsi keempat tujuan pendidikan tersebut di atas, yakni sebagai pemberi nilai terhadap suatu kegiatan, Langgulung  (1980: 178) memandang bahwa tujuan pendidikan Islam harus mampu mengakomodasikan tiga fungsi utama dari agama yaitu; fungsi spiritual yang berkaitan dengan aqidah dan iman; fungsi psikologis yang berkaitan dengan tingkah laku individual termasuk nilai-nilai akhlak yang mengangkat derajat manusia ke derajat yang lebih sempurna; dan fungsi sosial yang berkaitan dengan aturan-aturan yang menghubungkan manusia dengan manusia lain atau masyarakat, dimana masing-masing menyadari hak-hak dan tanggung jawabnya untuk menyusun masyarakat yang harmonis dan seimbang. Uraian ini pada intinya menegaskan bahwa suatu rumusan tujuan pendidikan Islam, tidaklah bebas dibuat sekehendak yang menyusunnya, melainkan berpijak pada nilai-nilai yang digali dari ajaran Islam itu sendiri. Dengan cara demikian maka tujuan tersebut dapat memberi nilai terhadap kegiatan pendidikan.
Hubungan antara tujuan dan nilai-nilai amat berkaitan erat, karena tujuan pendidikan merupakan masalah nilai itu sendiri. Pendidikan mengandung pilihan bagi arah perkembangan murid-murid ke mana akan diarahkan, dan pengarahan itu sudah tentu berkaitan erat dengan nilai-nilai. Pilihan terhadap suatu tujuan mengandung unsur mengutamakan terhadap beberapa nilai atas yang lainnya. Nila-nilai yang dipilih sebagai pengarah dalam merumuskan tujuan pendidikan tersebut pada akhirnya akan menentukan corak masyarakat yang akan dibina malalui pendidikan itu (Al syaibani 1979: 403). Dari berbagai uraian di atas, nampak bahwa tujuan pendidikan sangat penting untuk dirumuskan, sebelum kegiatan pendidikan dilaksanakan.

B.    Tujuan Pendidikan Islam

Untuk mengetahui tujuan pendidikan Islam, terlebih dahulu perlu diketahui berbagai pendapat para ahli, sehingga bisa diperoleh rumusan yang sebenarnya tentang tujuan Pendidikan Islam.
Imam Ghazali (dalam Sulaiman, 1986: 25-26), mengemukakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan manusia paripurna, baik di dunia maupun di akhirat. Manusia dapat mencapai kesempurnaan apabila mau berusaha mencari ilmu dan selanjutnya mengamalkan fadilah (keutamaan) melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Fadilah itu akan membawanya untuk dekat kepada Allah dan selanjutnya membahagiakan hidupnya di dunia dan akhirat.
Ahmad D. Marimba (1980 45-46), mengemukakan dua macam tujuan pendidikan, yaitu tujuan sementara dan tujuan akhir;
1.    Tujuan Sementara; adalah sasaran sementara yang harus dicapai oleh umat Islam yang melaksanakan pendidikan Islam. Tujuan sementara di sini, adalah tercapainya berbagai kemampuan seperti: kecakapan jasmani, pengetahuan membaca, menulis, pengetahuan ilmu-ilmu kemasyarakatan, kesusilaan, keagamaan, kedewasaan jasmani rohani dan sebagainya.
2.    Tujuan akhir pendidikan Islam adalah terwujudnya kepribadian muslim, yang seluruh aspeknya mencerminkan ajaran Islam. Adapun aspek-aspek kepribadian itu dapat dikelompokkan ke dalam tiga hal, yaitu;
a.    Aspek jasmaniah, meliputi tingkah laku yang mudah nampak dari luar, misalnya: cara-cara berbicara, bertingkah laku dan sebagainya.
b.    Aspek kejiwaan, meliputi aspek-aspek yang tidak segera dapat dilihat dari luar, misalnya: cara berfikir, minat, cara pandang terhadap sesuatu dan sebagainya.
c.    Aspek kerohanian yang luhur, meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lebih abstrak, yaitu filsafat hidup dan kepercayaan. Ini meliputi sistem nilai yang telah meresap di dalam kepribadian yang mengarahkan dan memberi corak seluruh kepribadian individu. Bagi orang yang beragamaa, aspek ini bukan saja di dunia tetapi juga di akhirat.
M. Athiyah al Abrasyi (1974: 15), memandang bahwa pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam.  Mencapai suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan umum pendidikan. Dengan demikian gambaran manusia yang ideal yang harus dicapai melalui kegiatan pendidikan adalah manusia yang sempurna akhlaknya. Hal ini sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW. yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, sebagaimana hadits beliau:

ﺍﻧﻤﺎ ﺑﻌﺜﺖﻷﺗﻤﻢ ﻣﻜﺎﺭﻡ ﺍﻷﺧﻼﻕ٠٭﴿ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ﴾٭

Artinya:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnkan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
Tujuan umum di atas kemudian dirinci menjadi tujuan-tujuan khusus untuk:
1.    Pembinaan akhlak.
2.    Menyiapkan anak didik untuk hidup di dunia dan akhirat.
3.    Penguasaan ilmu.
4.    Ketrampilan bekerja dalam masyarakat.
Abdul Fatah Jalal (1988: 119-122), mengelompokkan tujuan pendidikan Islam ke dalam tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum yaitu menjadikan manusia sebagai abdi atau hamba Allah yang senantiasa mengagungkan dan membesarkan asma Allah SWT. dengan meneladani Rasulullah SAW. menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, gemar mempelajari segala yang bermanfaat baginya dalam merealisasikan tujuan yang telah digariskan oleh Allah.
Allah berfirman:

ﻴﺎﺍﻴﻬﺎﺍﻠﻣﺩ ﺜﺭ٠ﻗﻡ ﻔﺄﻧﺫ ﺭ٠ﻮﺭﺒﻙ ﻔﻛﺑﺭ٠ ٭﴿ﺍﻟﻤﺪ ﺛﺮ׃١ـ٣﴾٭     

Artinya:
“Hai orang-orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabbmu agungkanlah. (QS. Al Muddatsir 1-3).

ﺍﻗﺮﺃ ﺒﺎﺴﻢ ﺮﺒﻚ ﺍﻠﺬﻱ ﺧﻠﻖ ٠ ﺧﻠﻖ ﺍﻹﻧﺴﺎﻦ ﻤﻦ ﻋﻠﻖ٠ ﺍﻗﺮﺃ ﻮﺮﺒﻚ ﺍﻷ ﻜﺮﻢ٠ﺍﻠﺬﻱ ﻋﻠﻢ ﺒﺎﻠﻗﻠﻢ٠ﻋﻠﻢ ﺍﻹ ﻧﺴﺎﻦ ﻣﺎ ﻠﻢ ﻳﻌﻠﻢ۰ ٭﴿ﺍﻟﻌﻠﻖ׃١ـ٥﴾٭               
Artinya:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, yang menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmu yang amat Pemurah, Yang mengajarkan manusia dengan pena. Yang mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

ﻮﻣﺎﺧﻠﻗﺖ ﺍﻠﺠﻦ ﻮﺍﻹﻧﺲ ﺍﻻ ﻠﻴﻌﺒﺪﻮﻦ٠ ﻣﺎ ﺃ ﺮﻴﺩ ﻣﻧﻬﻢ ﻣﻦ ﺮﺰﻕ ﻮﻣﺎﺃﺮﻴﺩ ﺃﻦ ﻴﻃﻌﻣﻮﻦ٠ﺇﻦ ﺍﷲ ﻫﻭﺍﻠﺭﺰﺍﻕ ﺬ ﻭﺍﻠﻗﻭﺓ
ﺍﻠﻣﺘﻴﻦ٠٭﴿ﺍﻟﺬ ﺭﻳﺎﺕ ׃٥٦ ـ  ٥٨ ﴾٭
Artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sesdikit pun dari mereka, dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha pemberi rezeki yang mempunyai kekuasaan lagi sangat kokoh. (QS. Al Dzariyat: 56-58).

ﻮﻠﻗﺩ ﺒﻌﺛﻧﺎﻔﻰ ﻜﻞ ﺃﻤﺔ ﺮﺴﻭﻻ  ﺃﻥ ﺍﻋﺑﺩ ﻭﺍﺍﷲ ﻭﺍﺠﺘﻨﺑﻭ ﺍ ﺍﻠﻃﺎﻏﻭﺕ ﻔﻤﻧﻬﻢ ﻤﻦ ﻫﺪﻯ ﺍﷲ ﻮﻣﻧﻬﻢ ﻤﻦ ﺤﻗﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻠﻀﻠﻠﺔﻗﻠﻰ  ﻔﺴﻴﺮﻮﺍ ﻔﻰﺍﻻﺮﺾ ﻔﺎﻧﻇﺮﻮﺍ ﻜﻴﻒ ﻜﺎﻥ ﻋﺎﻗﺒﺔ ﺍﻠﻤﻜﺬ ﺒﻴﻥ  ٠٭﴿ﺍﻟﻨﺤﻞ׃ ٣٦﴾٭

Artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Mengabdilah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu’, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di mukua bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan Rasul-rasul-Nya.”  (QS. Al Nahl: 36).
Demikianlah Allah SWT. Telah menciptakan seluruh manusia untuk beribadah kepadanya. Kemudian mengutus seluruh Rasul kepada mereka untuk mengajak mereka beribadah kepada Allah SWT.
Ringkasnya tujuan umum pendidikan adalah membina peserta didik agar menjadi hamba yang suka beribadah kepada Allah. Ibadah di sini tidak hanya terbatas pada menunaikan shalat, puasa di bulan Ramadan, mengeluarkan Zakat dan beribadah haji, tetapi mencakup segala amal, pikiran atau perasaan manusia yang kesemuanya dihadapkan kepada Allah. Ibadah adalah jalan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia berupa perkataan, perbuatan, perasaan bahkan bagian apapun dari perilakunya dalam mengabdikan diri kepada Allah. Sedangkan tujuan kusus sebenarnya merupakan rincian dari tujuan umum sebgaiman telah disebutkan di atas.
Arifin (1991: 38-39) membedakan tujuan pendidikan dengan tujuan teoritik dan tujuan dalam proses;
1. Tujuan teoritik terdiri atas berbagai tingkat antara lain:
a.   Tujuan intermedier, tujuan akhir, tujuan insidental;
1)    Tujuan intermedier  yaitu tujuan yang merupakan batas sasaran kemampuan yang harus dicapai dalam proses pendidikan pada tingkat tertentu.
2)    Tujuan insidental merupakan peristiwa tertentu yang tidak direncanakan, tetapi dapat dijadikan sasaran dari proses pendidikan pada tujuan intermedier.
3)    Tujuan akhir pendidikan Islam pada hakekatnya terealisasi dari cita-cita ajaran Islam, yang membawa misi bagi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir dan batin di dunia dan akhirat.
     b.   Di lihat dari segi pendekatan sistem instruksional dapat dibedakan menjadi:
1)    Tujuan instruksional khusus, diarahkan kepada setiap bidang studi yang harus dikuasai dan diamalkan oleh anak didik.
2)    Tujuan instruksional umum, diarahkan kepada penguasaan atau pengamalan suatu bidang studi secara umum atau garis besarnya sebagai suatu kebulatan.
3)    Tujuan kurikuler, yaitu ditetapkan  untuk dicapai melalui garis-garis besar program pengajaran (GBPP) ditiap institusi pendidikan.
4)    Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai menurut program, pendidikan ditiap sekolah atau lembaga  pendidikan tertentu.
5)    Tujuan Nasional atau tujuan umum, adalah cita-cita hidup yang ditetapkan untuk dicapai melalui proses kependidikan dengan berbagai cara atau sistem, baik formal maupun non formal.  
 2.  Tujuan dalam proses mencakup dua macam, yaitu:
a.    Tujuan keagamaan (al gardu al dieny), yaitu tujuan yang terisi penuh nilai rohaniah Islam dan berorientasi kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Tujuan ini difokuskan pada kebahagiaan hidup di akhirat. Tujuan ini difokuskan pada pembentukan pribadi muslim yang sanggup melaksanakan syariat Islam melalui proses pendidikan spiritual menuju ma’rifat kepada Allah. Ayat Al-Qur’an berikut ini dijadikan tumpuan cita-cita hidup.

ﻫﻮﺍﻟﺬﻱ ﺧﻌﻞ ﻟﻜﻢ ﺍﻷﺭﺽ ﺫ ﻟﻮﻻﻓﺎﻣﺸﻮﺍ ﻓﻰ ﻣﻨﺎﻛﺒﻬﺎ ﻭﻛﻠﻮﺍﻣﻦ ﺭﺯﻗﻪ ﻭ ﺇﻟﻴﻪ ﺍﻟﻨﺸﻮﺭ٠٭﴿ﺍﻟﻤﻠﻚ׃ ١٥﴾٭
Artinya:
“Dia yang menjadikan bumi bagimu dengan mudah kamu jalani, sebab itu berjalanlah kamu pada beberapa penjurunya dan makanlah rejeki  Allah kepada-Nya tempat kembali.” (QS. Al Mulk: 15).
b.    Tujuan keduniaan (al gardu al dunyawi), yaitu tujuan yang lebih mengutamanak upaya untuk mewujudkan kesejahteraan hidup di dunia dan kemanfaatannya. Tujuan ini diarahkan kepada upaya memajukan manusia dengan ilmu pengetahuan dan teknologi moderen dengan berlandaskan iman dan taqwa. Dengan demikian Islam tidak mengabaikan kehidupan dunia sebagai salah satu tujuan pendidikannya, sebagaimana firman Allah  sebagai berikut:

ﻔﺈﻧ ﺍ ﻗﻀﻴﺖ ﺍﻠﺼﻠﻭﺓ ﻔﺎﻧﺗﺜ ﺮﻭﺍﻔﻰﺍﻷﺮﺾ ﻭﺍﺒﺘﻐﻭﺍ ﻤﻦ ﻔﺿﻞ ﺍﷲ ﻭﺍﺬ ﻜﺮﻭﺍ ﺍﷲ  ﻜﺜـﻴﺮﺍ ﻟﻌﻠﻜﻢ ﺗﻔﻠﺤﻮﻥ٠
                                                                                                             ٭﴿ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ׃  ١٠﴾٭
Artinya:
“Maka apabila telah selesai mengerjakan shalat hendaklah kamu bertebaran di muka bumi ini dan carilah karunia Allah dan ingatlah akan Allah sebanyak-banyaknya, mudah-mudahan kamu memperoleh   kemenangan .”  (QS. Al Jum’ah: 10). 
Hasil keputusan Seminar Pendidikan Islam se-Indonesia tanggal 7 sampai 11 Mei 1960 di Cipayung Bogor (dalam, Ihsan & Ihsan, 2001: 86) tujuan pendidikan Islam secara umum adalah menanamkan takwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia berkepribadian dan berbudi luhur menurut ajaran Islam.        
Jika ditinjau dari segi pembidangan tugas dan fungsi manusia secara filosofis, maka tujuan pendidikan dapat dibedakan menjadi 3 macam,

1.    Tujuan Individual; yaitu suatu tujuan yang menyangkut individu, malalui proses belajar dalam rangka mempersiapkan dirinya dalam kehidupan dunia dan akhirat.
2.    Tujuan Sosial, adalah suatu tujuan yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan, dan dengan tingkah laku masyarakat umumnya serta dengan perubahan-perubahan yang diinginkan pada pertumbuhan pribadi, pengalaman, dan kemajuan hidupnya.
3.    Tujuan profesional, adalah suatu tujuan yang menyangkut pengajaran sebagai ilmu, seni, dan profesi serta sebagai suatu kegiatan dalam masyarakat.  
Dalam proses kependidikan, ketiga tujuan di atas dicapai secara integral, tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya, sehingga dapat mewujudkan tipe manusia paripurna seperti yang dikehendaki oleh agama.
Bila ditinjau dari segi pelaksanaannya maka tujuan pendidikan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1.    Tujuan operasional, adalah suatu tujuan yang yang dicapai menurut program yang telah ditentukan/ditetapkan dalam kurikulum.
2.    Tujuan fungsional, yaitu tujuan yang tercapai dalam arti kegunaannya, baik dari aspek teoritis maupun aspek praktis.
Dalam prakteknya adakalanya tujuan operasional sudah tercapai tetapi secara fungsional belum tercapai dikarenakan beberapa sebab. Misalnya produk kependidikan belum siap dipakai dilapangan karena masih memerlukan ketrampilan tentang bidang keahlian yang akan diterjuni. Dan sebaliknya tujuan fungsional bisa jadi telah tercapai walaupun secara operasional belum. Misalnya produk kependidikan telah mencapai keahlian teoritis ilmiah dan juga kemampuan/ketrampilan yang sesuai dengan bidangnya, tetapi secara administratif belum selesai. Oleh karena itu produk kepandidikan yang paripurna adalah bilamana dapat menghasilkan anak didik yang memiliki kemampuan teoritis dan sekaligus memiliki kemampuan praktis atau teknis operasional. Anak didik telah siap pakai dalam bidang keahlian yang dituntut oelh dunia kerja. 
Dari berbagai pendapat para ahli pendidikan di atas, dapat disusun struktur perumusan tujuan pendidikan Islam yaitu:
1.    Tujuan umum, ialah tujuan yang ingin dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cra lain. Tujuan ini  mencakup seluruh aspek kemanusiaan yang meliputi sikap, penampilan, tingkah laku, kebiasaan dan pandangan. Tujuan umum ini berbeda untuk setiap tingkat umur kecerdesan, situasi dalam kerangka yang sama. Bentuk isan kamil dengan  pola taqwa harus dapat tergambar pada pribadi seseorang yang sudah dididik walau pun dalam ukuran kecil dan mutu yang rendah, sesuai dengan tingkat-tingkat tersebut.
2.    Tujuan akhir pendidikan adalah tujuan yang dicapai setelah berakhirnya kehidupan. Hal ini seiring dengan prinsip pendidikan seumur hidup dalam Islam. Adapun tujuan akhir pendidikan Islam adalah insan kamil yang mati dan menghadap Tuhannya dalam keadaan muslim. Tujuan akhir pendidikan Islam dapat difahami dalam ayat berikut ini:
   ﻴﺎﺍﻴﻬﺎ ﺍﻠﺬ ﻴﻦ ﺍﻤﻧﻮﺍ ﺍﺗﻗﻮﺍﺍﷲ ﺤﻖ ﺗﻗﺗﻪ ﻮﻻﺗﻤﻮﺗﻦ ﺍﻻﻮﺍﻧﺗﻢ ﻤﺴﻠﻤﻮﻦ۰ ٭﴿ﺍﻞﻋﻤﺮﺍﻦ׃ ١۰۲﴾٭
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102).
3.    Tujuan sementara ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal.  Tujuan operasional dalam bentuk tujuan instruksional umum dan khusus (TIU dan TIK), dapat dianggap tujuan sementara dalam sifat yang agak berbeda.
4.    Tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah pendidikan tertentu. Dalam pendidikan formal tujuan operasional ini disebut juga dengan tujuan instruksional yang selanjutnya dikembangkan menjadi TIU dan TIK. Tujuan intruksional ini merupakan tujuan pengajaran yang direncanakan dalam unit-unit kegiatan pengajaran.  

Managemen Heart


Gundah gulana, suka ria, bimbang, keraguan dan keyakinan ada dalam hati, perasaan itu datang silih berganti berkejaran bak rembuklan dan matahri dan tak seorang pun mengerti dengan pasti kapan hati kita menjadisuci dan kapan terhindar dari beraneka macam dosa.

Matahari mulai terbenam mata sudah ter pejam namun dalam hati ini masih menyeruak berjuta juta angan tentang kehidupan duniawi ytang penuh dengan kehampaan dan seakan memaksa mata untuk selalu terbuka dan badan untuk selalu bergerak guna meraih kenikmatan dunia yang hanya sesat.

Kalimat diatas tadi adalah sedikit ungkapan tentang sulitnya menjaga dan mengatur hati karena hati selalu berubah bahkan lebih cepat dari hitungan detik dan second.


Semoga kita selalu dapat mengatur hati kita dengan baik dan semoga kita ttetap berada pada jalan yang benar..amin..

Ingin Menjadi Orang Sukses

Pada zaman sekarang ini, untuk menjadi orang yang sukses itu memanglah tidak mudah, tidak semudah kita membalikkan tangan kita, apalagi dengan semakin berkembangnya dunia tekhnolgi yang serba canggi dan cepat, tapi semua itu tidak mengecilkan hati saya untuk tetap berusaha menjadi orang yang sukses, dan dengan majunya dunia tekhnologi ini, semakin membuat saya lebih semangat lagi dan berusaha berfikir bagaimana caranya untuk memanfaatkan kemajuan tekhnologi ini sebagai jalan agar saya lebih cepat menjadi orang yang sukses dan berusaha agar tidak terlena oleh kemajuan tekhnologi yang dapat merusak kreatif saya dan bergantung kepadanya, dan saya akan berusaha untuk menjadi yang terbaik meskipun sepertinya tidak mudah untuk dilakukan dan saya akan selalu semangat agar apa yang saya inginkan ini akan tercapai yaitu menjadi orang yang sukses tentunya sukses pada diri sendiri, keluarga, bangsa dan Negara.

Memang saya sadar, untuk menjadi orang yang sukses tidak semudah apa yang sudah saya rencanakan dan saya perhitungkan, tetapi ini akan membutuhkan sebuah proses yang sangat panjang dan lama, di dalam proses inilah mungkin saya akan menemukan berbagai macam halangan dan rintangan yang dapat menghalangi saya untuk menjadi sukses, terutama bagi saya rintangan yang paling berat adalah melawan factor lingkungan yang kurang mendukung, karna mayoritas masyarakat dilingkungan saya pendidikannya rata-rata masih tergolong rendah sehingga pemikiran mereka masih terbelakang, dan saya akan berusaha akan mencoba agar tidak terpengaruh oleh lingkungan yang dapat menghalangi saya untuk menjadi orang yang sukses, dan suatu saat saya akan membuktikan kepada mereka semua, dan selain dari factor lingkungan ada juga yang menjadi hambatan saya untuk menjadi sukses, yaitu factor ekonomi yang sepertinya kurang mendukung untuk menjadikan saya sukses, tapi ini tidak mengecilkan hati saya untuk menjadi orang yang sukses,dan saya yakin bahwasannya “orang sukses itu bukan hanya untuk orang-orang yang banyak uang atau orang kaya saja” tetapi niat, kemaun dan semangat kita untuk menggapai semua itu.

Kesuksesan yang saya inginkan bukan hanya sukses dunia saja,tetapi juga sukses akhirat, dan saya akan berusaha untuk selalu melaksanakan kewajiban saya sebagai mahluk social dan beragama. Disamping itu tidak akan terlupa pula,,yaitu selalu bersyukur kepada allah SWT, atas nikmatnya yang diberikan kepada saya dan karna dialah saya diberi kekuatan menghadapi segala cobaan dan rintangan,.amin.



Pandangan Pertama

 Pandangan Pertama
Puji syukur kehadirat Allah swt, yang mana diberi kenikmatan yang tidak begitu terhingga nilainya. Kedua kalinya kita panjatkan shalawat serta salam kepada junjungan nabi kita yakni nabi Muhammad saw, yang mana beliau telah membawa kita dari jaman kegelapan menuju jaman yang terang benerang ini yakni addinul islam.
Dalam kesempatan ini disini saya mencoba menulis sedikit pengalaman pribadi saya, tidak lain tujuannya adalah selain mengingat masa yang saya sudah alami, dan mencoba mengambil sebuah hikmahnya dibalik semua kejadian itu, disamping itu saya sambil belajar menuangkan apa yang dalam pikiran saya..sehingga nantinya dapat mengembang pola pikir saya,,amin ya yarobbal alamin….
Sekitar pertengahan bulan maret, pada waktu itu saya lagi kuliah, dan ketika itu dosennya tidak datang,,saya memutuskan untuk ngobrol2 didepan kelas bersama teman – teman, tanpa disadari ketika saya asik ngobrol2 sama teman – teman,,pandangan saya terarah ke timur(depan kelas),,dan saya melihat seorang gadis,,yang mana ketika saya melihat wajahnya pertama kali,,sungguh sangat lain dari pada yang lain,,dia sungguh sangat berwibawa sekali, pancaran wajahnya sungguh alami,, dan bersinar bagaikan selalu di aliri dengan air wudu’…
Entah setan apa yang merasuki aku, sampai – sampai aku pada waktu melihatnya,,eh tidak terasa aku sampai ditinggal sama teman – teman isin aku oy..he7.. ketika aku sudah pulang dan sesampai dirumah., ternyata aku tidak bisa begitu saja melupakan wajahnya yang sungguh sangat berwibawa itu. Dan keesokan harinya aku ketika kuliah ternyata ketemu dia lagi. Wduh aku tambah tidak bisa melupakan wajahnya, akhirnya aku tidak bisa bohong pada diriku sendiri,,mungkin aku sangat kagum sama anak tersebut dan saya putuskan untuk mencari tau tentang dia dan brfikir bagaimana agar aku bisa kenalan sama dia.

Makalah Tafsir surat Al-Alaq ayat 1-5

BAB I
PENDAHULUAN
1.    LATAR BELAKANG
Islam adalah satu-satunya agama samawi yang memberikan perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Perhatian ini dibuktikan melalui turunnya wahyu pertama Qs. Al-Alaq 1-5. Sebagian mufasirin menyatakan bahwa ayat tersebut sebagai proklamasi dan motivasi terhadap ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kita harus memberikan skala prioritas yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Tanpa itu, kita akan terus daitur, dijajah, dan didekte oleh bangsa lain yang lebih tinggi kemajuan ipteknya. Dengan kemajuan iptek kita dapat mensejahterakan kehidupan umat manusia, dan mengelola alam dengan baik.
Mengenai wahyu pertama dalam surat Al-Alaq tersebut, terdapat khilafiyah dikalangan ulama’, Pendapat minoritas mengatakan bahwa surat yang pertama kali turun yaitu surat Al-Fatihah. Diantara yang berpendapat seperti itu adalah Syekh Muhammad Abduh dengan dalil riwayat Al-Baihaqi yang ternyata haditsnya adalah dho’if, dan dalil naqli (secara akal) yang menyatakan bahwa Allah akan menjelaskan sesuatu dari yang global, sedangkan Al-Fatihah mencakup penjelasan Al-Qur’an secara global.
Namun golongan mayoritas tidak sependapat dengan hal itu karena lebih berpegang pada hadits yang lebih shohih diriwayatkan oleh Imam Al Bukhori yang menjelaskan bagaimana peristiwa pertama kali turunnya Al Qur’an, dan yang turun pertama kali yaitu surat Al ‘Alaq (ayat 1-5).

2.    RUMUSAN MASALAH
a.    Bagaimana terjemah surat Al-Alaq ayat 1-5?
b.    Bagaimana proses turunnya surat Al-Alaq ayat 1-5?
c.    Bagaimana tafsir surat Al-Alaq ayat 1-5?

BAB II
PEMBAHASAN
                                
Artinya:
1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmu-lah yang Maha Mulia.
4. Yang mengajar (manusia) pena.
5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

A.    MUFRODAT
1.                : Bacalah
2.               : Dengan menyebut nama Tuahnmu-mu
3.            : Yang menciptakan
4.              : Yang menciptakan manusia
5.             : Diciptakan dari segumpal darah (tetesan darah kental yang melekat dalam rahim ibu  “alaqa”)
6.              : Dan Tuhanmu Maha Mulia
7.            : yang memberi ilmu dengan perantara pena
8.              : yang mengajar manusia
9.               : apa-apa yang tidak diketahuinya


B.    PROLOG TURUNNYA SURAT
Disebutkan dalam hadits-hadits shahih, bahwa Nabi SAW, mendatangi gua Hira’ (Hira’ adalah nama sebuah gunung di Makkah) untuk tujuan beribadah selama beberapa hari. Beliau kembali kepada Istrinya –Siti Khadijah- untuk mengambil bekal secukupnya. Hingga pada suatu hari –di dalam gua- beliau dikejutkan oleh kedatangan malaikat membawa wahyu ilahi. Malaikat berkata kepadanya, “bacalah!” beliau menjawab, “saya tidak bisa membaca”. Perawai mengatakan, bahwa untuk kedua kalinya malaikat memegang Nabi dan menekan-nekannya hingga Nabi kepayahan, dan setelah itu dilepaskan. Malaikat berkata lagi kepadanya, “Bacalah!” Nabi menjawab, “saya tidak bisa membaca”. Perawi mengatakan bahwa untuk ketiga kalinya melaikat memegang Nabi dan menekan-nekannya hingga beliau kepayahan. Setelah itu barulah Nabi mengucapkan apa yang diucapkan oleh malaikat, yaitu surat Al-‘Alaq ayat 1-5.
Para perawi hadist mengatakan, bahwa Nabi SAW kembali ke rumah Khadijah dalam keadaan gemetar seraya mengatakan, “selimutilah aku, selimutilah aku”. Kemudian mereka menyelimuti beliau hingga rasa takut beliau pun hilang. Setelah itu beliau menceritakan semuanya kepada Khadijah. Lalu beliau berkata “aku merasa khawatir terhadap diriku”. Khadijah menjawab, “jangan, bergembiralah! Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah orang yang menyambungkan silaturrahmi, benar dalam berkata, menanggung beban, gemar menyuguhi tamu dan gemar menolong orang yang tertimpa bencana.”
Kemudian khadijah mengajak beliau menemui Waraqah ibnu Naufal ibnu ‘Abdil ‘Uzza (anak paman Khadijah). Beliau adalah pemeluk agama Nasrani di zaman jahiliyah, pandai menulis Arab dan menguasai Bahasa ibrani, serta pernah menulis Injil dalam bahasa Arab dari bahasa aslinya, Ibrani. Beliau seorang yang sudah lanjut usia, dan buta kedua matanya. Khadijah berkata kepadanya, “hai anak paman! Dengarkanlah apa yang dikatakan anak saudaramu ini.” Waraqah bertanya kepada Nabi, “wahai anak saudaraku, apakah yang engkau saksikan?”. Kemudian Nabi saw menceritakan apa yang dialaminya kepadanya. Warawah berkata, “Malaikat Namus (pakar ahli yang pandai) inilah yang pernah datang kepada Nabi isa. Jika saja aku masih kuat, dan jika saja aku masih hidup tatkala kaummu mengusirmu”. Rasulullah SAW bertanya, “ya, tidak seorang pun datang membawa apa yang kau bawa, melainkan ia akan dimusuhi. Jika aku masih hidup dimasa itu, aku akan menolongmu sekuat tenaga.” Tetapi tidak lama kemudian ia wafat. Hadist ini diriwayakan oleh Imam Ahmad, Bukhari, dan Muslim.
Berdasarkan hadits tersebut dapat disimpulakn bahwa permulaan surah ini merupakan awal ayat-ayat al-Qur’an diturunkan. Dan merupakan Allah pertama yang diturunkan kepada hamba-hamba-Nya, serta khittab pertama ditujukan kepada Rasulullah SAW.


C.    URAIAN DAN TAFSIR AYAT
     
Iqro dapat diartikan membaca, menghimpun, menelaah, mendalami, meneliti dan menyampaikan. Mustafa Al Maraghi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa arti Iqro yaitu Allah menjadikan engkau (Muhammad SAW) bisa membaca dengan kehendakNya yang tadinya engkau tidak bisa membaca. Pakar tafsir yang lain membantah hal ini karena setelah menerima wahyu ini Muhammad SAW tetap tidak bisa membaca. Justru Beliau SAW tidak bisa membaca dan menulis adalah sebuah mu’jizat, karena dengan begitu orang tidak akan ragu mengakui bahwa Al-Qur’an adalah murni wahyu dari Allah SWT tanpa campur tangan Muhammad SAW (Surah Al Ankabut:48).
Seorang Syekh Al Azhar bernama Abdul Halim Mahmud dalam bukunya berjudul Al-Qur’an fii Syahril Qur’an menyatakan bahwasanya makna Iqro bis mirobbik adalah lambang dari semua aktivitas manusia baik aktif maupun pasif senantiasa dalam koridor (selalu dihubungkan dengan) Allah SWT. Duduknya kita karena Allah, berjalannya kita karena Allah, bekerjanya kita karena Allah, tidurnya kita karena Allah. Dan inilah yang seharusnya menjadi falsafah dalam hidup kita, bahwa semua yang kita lakukan hanyalah karena Allah.
Ismun ada dua pengertian, asumu berarti tinggi dan asimma berarti tanda. Maksudnya adalah bahwa sebuah nama adalah sebuah tanda dan nama itu ingin selalu ditinggikan.
Rabb artinya adalah pemelihara. Wahyu pertama sampai wahyu ke delapan belas tidak pernah menggunakan kata Allah tapi menggunakan kata Robb. Surat ke sembilan belas (Al Ikhlas) baru ditemukan kata Allah untuk menjelaskan tuhan. Ahli tafsir meneliti redaksi ini dan mendapatkan jawaban bahwa ternyata orang kafir zaman dulu sudah mengenal kata Allah. Bukti tentang hal ini adalah Ayah Nabi Muhammad SAW sendiri bernama ‘Abdullah (hamba Allah), namun beliau sudah meninggal dunia sebelum Islam muncul. Namun Allah yang mereka kenal adalah tidak sesuai ajaran Al Qur’an. Menurut mereka Allah punya hubungan dengan jin (Ash Shofat:158) dan Allah punya anak-anak perempuan (Al Isro:40).
    
Kholaqo al Insaana Min Alaq “yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Kholaqo menjadikan atau menciptakan. Menurut ahli tafsir, Allah menggunakan kata kholaqo karena menekankan kekuasaan dan keagungan Allah SWT dalam penciptaan. Berbeda dengan kata ja’ala yang digunakan untuk menekankan manfaat dari ciptaan Allah SWT.
Insaan manusia. Menurut Quraish shihab berasal dari 3 kata, nausun artinya dinamis, unsun artinya jinak dan harmonis, nisyun artinya lupa. Oleh karena itu manusia haruslah dinamis, jinak, menyukai keharmonisan dan mempunyai sifat pelupa.
Alaq segumpal darah. Kenapa Allah menggunakan periode ‘Alaq (segumpal darah) dalam pembentukan manusia pada ayat ini? Ahli kedokteran menyebutkan bahwa empat puluh hari pertama setelah pertemuan ovum dan sperma belum menjadi segumpal darah, oleh karena itu banyak yang membantah ‘alaq diartikan sebagai segumpal darah. Quraish Shihab menyatakan al ‘alaq bisa diartikan menggantung, dan ternyata setelah diteliti diketahui bahwa setelah ovum dan sperma bertemu, akan menggantung di rahim. Urutan penciptaan manusia lebih jelas dapat dilihat dalam QS Mu’minun : 11-14.

   
Iqro disebutkan berulang pada ayat pertama dan ayat kedua, tentunya ada makna tersendiri. Menurut al-Maraghi, perintah tersebut disebutkan berulang sebab membaca tidak akan bisa meresap ke dalam jiwa, melainkan setelah berulang-ulang dan dibiasakan. Quraish Shihab menjelaskan maknanya adalah bacalah dan karena engkau telah membaca, karena keagungan dan kemuliaan Allah maka engkau pun akan menjadi mulia. Oleh karena itu Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Jikalau engkau ingin mulia maka banyaklah membaca dan meneliti.
Di dalam ayat yang mula turun ini telah jelas penilaian yang tertinggi kepada kepandaian membaca dan menulis. Berkata Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsirnya: "Tidak didapat kata-kata yang lebih mendalam dan alasan yang lebih sempurna daripada ayat ini di dalam menyatakan kepentingan membaca dan menulis ilmu pengetahuan dalam segala cabang dan bahagiannya. Dengan itu mula dibuka segala wahyu yang akan turun di belakang.

   
Yang menjadikan pena sebagai sarana berkomunikasi antar sesama manusia, sekalipun letaknya berjauhan. Dan ia tidak ubahnya lisan yang berbicara. Qalam atau pena adalah benda mati yang tidak bisa memberikan pengertian. Oleh sebab itu zat yang menciptakan benda mati bisa menjadi alat komunikasi tidak ada kesulitan bagi-Nya.
Disini Allah menyatakan bawa diri-Nyalah yang telah menciptakan manusia dari ‘alaq, kemudian mengajari manusia dengan perantaraan qalam. Demikian itu agar manusia menyadari bahwa dirinya diciptakan dari sesuatu yang paling hina, hingga ia mencapai kesempurnaan kemanusiaannya dengan pengetahuannya tentang hakekat segaa sesuatu.

     
Kemudian dalam ayat ini Allah memberikan keterangan tentang limpahan karunia-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang menjadikan Nabi-Nya pandai membaca. Dia-lah Tuhan yang mengajar menusia bermacam-macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat baginya yang menyebabkan dia lebih utama dari binatang, sedangkan manusia pada permulaan hiduonya tidak mengetahui apa-apa. Oleh sebab itu apakah menjadi suatu keanehan bahwa Dia mengajar Nabi-Nya pandai membaca dan mengetahui bermacam macam ilmu pengetahuan serta Nabi SAW sanggup menerimannya.
Ar-Razi menguraikan dalam tafsirnya, bahwa pada dua ayat pertama disuruh membaca di atas nama Tuhan yang telah mencipta, adalah mengandung qudrat, hikmat, ilmu dan rahmat. Dan pada ayat yang seterusnya seketika Tuhan menyatakan mencapai ilmu dengan qalam atau pena, adalah suatu isyarat bahwa ada juga di antara hukum itu yang tertulis, yang tidak dapat difahamkan kalau tidak didengarkan dengan seksama. Maka pada dua ayat pertama memperlihatkan rahasia Rububiyah, rahasia Ketuhanan. Dan di tiga ayat sesudahnya mengandung rahasia Nubuwwat, Kenabian. Dan siapa Tuhan itu tidaklah akan dikenal kalau bukan dengan perantaraan Nubuwwat, dan nubuwwat itu sendiri pun tidaklah akan ada, kalau tidak dengan kehendak Tuhan,

KESIMPULAN
Ayat ini menyatakan bahwa manusia dijadikan dari segumpal darah atau menurut pendapat lain ‘alaq (sesuatu yang melekat).
Dengan ayat-ayat ini terbuktilah tentang tingginya nilai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan. Andaikata tidak karena qalam niscaya tidak banyak ilmu pengetahuan yang tidak terpelihara dengan baik. Banyak penelitian yang tidak tercatat dan banyak ajaran agama hilang, pengetahuan orang dahulu kala tidak dapat dikenal oleh orang-orang sekarang baik ilmu, seni, dan penemuan-penemuan mereka.
Manusia telah diperintahkan untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena “iqra`” haruslah dengan “bismi rabbika”, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan asas Aqidah Islam.
Demikian pulan dengan pena tidak dapat diketahui sejarah orang-orang yang berbuat baik atau yang berbuat jahat dan tidak ada pula ilmu pengetahuan yang menjadi pelita bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Ayat ini juga menjadikan bukti kekuasaan Allah yang menjadikan manusia dari benda mati yang tidak berbentuk dan berupa dapat dijadikan Allah menjadi manusia yang sangat berguna dengan mengajarinya pandai membaca dan menulis.

Daftar pustaka
Ahmad Mustafa Al-Maraghi, 1993, Tafsir Al-Maraghi Juz XXX, terjemah oleh Bahrun Abu Bakar, Semarang: TOHA PUTRA.
Depag RI, 1990, Al-Qur’an Dan Tafsirnya Jilid X, Yogyakarta: PT. Dana Bakti Wakaf
Depag RI, 2007, Al-Qur’an Dan Terjemahannya, Bandung: CV. Diponegoro
Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Misbah Vol. XV, Jakarta: Lentera Hati


Makalah Tafsir surat At-Taubah ayat 103 (implemetasi zakat)

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Menunaikan zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh seorang muslim sebagai penyuci harta mereka, yaitu bagi mereka yang telah memiliki harta sampai nishab (batas terendah wajibnya zakat) dan telah lewat atas kepemilikan harta tersebut masa haul (satu tahun bagi harta simpanan dan niaga), atau saat hasil pertanian telah tiba.
Zakat diwajibkan dengan tujuan untuk meringankan beban penderitaan kaum dhu’afa, fakir miskin, atau melipur orang-orang yang sengsara, dan membantu orangorang yang sangat membutuhkan pertolongan. Di samping itu pemberian zakat dapat merekat tali kasih sehingga tidak timbul ketegangan atau gejolak di tengah-tengah masyarakat yang sering terjadi di antara orang-orang kaya dengan orang-orang miskin. Zakat adalah ibadah yang memiliki dua dimensi: vertikal (ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah) dan horizontal (sebagai kewajiban kepada sesama manusia.
Berkenaan dengan zakat, Ayat 103 surat at-Taubah menjelaskan tentang implementasi zakat dalam Islam, Melalui makalah ini akan dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan zakat yang didasarkan pada ayat al-Qur'an tersebut.

B.    RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana terjemah surat At-Taubah ayat 103?
2.    Bagaimana asbanun Nuzul ayat tersebut?
3.    Bagaimana tafsir ayat tersebut?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    TERJEMAH AYAT
          •        
Artinya: “ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
 Mufrodat
        :     ambillah
    :    dari harta mereka
        :    Sedekah ( zakat )
        :    yang  membersihkan mereka
        :    dan Mensucikan mereka
        :    do’akanlah
•     : sesungguhnya do’amu
         : Sakinah ( tenteram/bahagia )
        : bagi mereka
     : dan Allah Maha Mendengar
        : maha mengetahui

Uraian Ayat
      
Allah S.W.T memerintahkan kepada Rasul-Nya supaya beliau mengambil sedekah (zakat) dari sebahagian harta mereka untuk menyucikan dan membersihkan mereka. Ayat ini umum, yakni perintah wajib zakat ini diperuntukkan bagi seluruh kaum muslimin yang mampu atau kaya. Ketentuan ini berlaku pula bagi orang yang mencampurkan amal soleh dengan amal buruk.
 
Firman Allah S.W.T : "Serta berdoalah bagi mereka" yaitu doakanlah mereka dan mintakanlah keampunan bagi mereka. Penafsiran ini sejajar dengan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam Sahihnya dari Abdullah bin Abi Aufa, dia berkata, " Apabila Nabi S.A.W. menerima sedekah dari suatu kaum, maka Baginda mendoakan mereka. Ayahku pergi untuk menyampaikan sederkahnya (zakat). Maka Baginda berdoa, "Ya. Allah, semoga Engkau melimpahkan rahmat kepada keluarga Abi Aufa.”

•   
Firman Allah S.W.T : "Sesungguhnya selawat (do’a) engkau itu mendatangkan ketenteraman hati bagi mereka". Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini dengan, "Merupakan rahmat bagi mereka".  Menurut suatu pendapat yang dimaksud dengan sakanun adalah ketenangan batin lantaran taubat mereka diterima.
  
Firman Allah S.W.T: "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," yaitu Maha Mendengar doa-doamu dan Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapat do’amu. Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Hudzaifah, "Sesungguhnya doa Nabi Muhammad S.A.W itu menjangkau seorang ayah, anaknya dan cucunya".

B.    ASBABUN NUZUL
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan apa yang dilakukan oleh Abu Lubabah dan segolongan orang-orang lainnya. Mereka merupakan kaum mukminin dan mereka pun mengakui dosa-dosanya. Jadi, setiap orang yang ada seperti mereka adalah seperti mereka juga dan hukum bagi mereka juga sama.
Mereka mengikat diri mereka di tiang-tiang masjid, hal ini mereka lakukan ketika mereka mendengan firman Allah SWT, yang diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang tidak berangkat berjihad, sedang mereka tidak ikut berangkat. Lalu mereka bersumpah bahwa ikatan mereka itu tidak akan dibuka melainkan oleh Nabi SAW sendiri. Kemudian setelah ayat ini diturunkan Nabi melepaskan ikatan mereka. 
Nabi kemudian mengambil sepertiga harta mereka kemudian menyedekahkannya kemudian mendoakan mereka sebagai tanda bahwa taubat mereka telah diterima.
Dalam riwayat lain desebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Baihaqi, bahwa Tsa'labah ibn Hathab meminta doa Rasulullah, "Ya Rasulullah berdoalah pada Allah supaya Dia memberi rizki harta pada saya!' Kemudian berkembang-biaklah domba Tsa'labah hingga dia tidak shalat Jum'at dan ikut jama'ah, lalu turunlah ayat 'Khudz min amwaalihim....
C.    TAFSIR AYAT
Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW dalam ayat ini untuk memungut zakat dari umatnya untuk menyucikan dan membersihkan mereka dengan zakat itu. Juga diperintahkan agar beliau berdo’a dan beristighfar bagi mereka yang menyerahkan bagian zakatnya.
Pada masa khalifah Abu Bakar, ayat ini dijadikan alasan oleh orang-orang yang menolak mengeluarkan zakat karena yang diperintah untuk memungut zakat dari mereka adalah Rasullullah sendiri, perintah Allah dalam ayat ini ditujukan kepada beliau pribadi bukan Abu Bakar.
Akan tetapi kemudian pendapat mereka ditolak oleh khalifah dan bahkan mereka karena menolak menyerahkan zakat yang wajib itu dinyatakan sebagai orang-orang yang murtad yang patut diperangi. Karena sifat tegas khalifah maka menyerahlah mereka dan kembali kejalan yang benar. Abu bakar berkata: mengenai peristiwa itu, “demi Allah, andaikan mereka menolak menyerahkan kepadaku seutas tali yang pernah mereka serahkanya sebagai kewajiban berzakat kepada Rasulullah, niscaya akan kuperangi mereka karena penolakan itu”.
Yang disebut mereka pada khususnya adalah golongan yang tersebut pada ayat sebelumnya, yaitu ornag yang msih campur aduk baginya diantara amalan yang baik dan yang buruk, tetapi dia sadar akan kekurangan dirinya dan ingin akan kebaikan. 
Dalam ayat ini dinyatakan suatu rahasia penting yang amat dalam, yaitu salah salah satu sebab mengapa manusia itu menjadi degil, sampai ada ada juga yang masih senang mencampur aduk amal baik dengan amal buruk, dan tidak juga insaf, sehingga akhirnya bisa jatuh jadi munafik atau fasik. Sebab yang terutama adalah pengaruh harta.
Dalam kehidupan manusia dikaruniai instink untuk ingin mempunyai, mencari makanan, dan harta. Agama Islam tidak menghapuskan instink tersebut bahkan dikobarkan, tetapi Islam mewajibkan supaya sebagian dari didapat itu diserahkan kepada yang lemah. Yang kaya wajib membantu yang miskin. Bukan anjuran, bukan sunnat saja, dan bukan hanya belas kasihan, tetapi kewajiban dan menjadi salah satu dari tiang rukun Islam.
Setelah Rasulullah SAW berhasil membentuk masyarakat atas dasar ajaran Islam, datanglah perintah Tuhan kepadanya “Khudz” ambil dari sebagian harta mereka sebagai sedekah. Kadang-kadang dia dinamai sodaqoh. Arti asal dari shodaqoh ialah bukti dan kebenaran, atau bukti dari benar-benarnya ada kejujuran (shiddiq) dan dia pun dinamai zakat, artinya pembersih, berkah, tumbuh, bertambah, suci, dan baik. Maksud perintah Tuhan menyuruh mengambil dari sebagian harta mereka itu sebagai sedekah dalam ayat ini adalah guna membersihkan dan mensucikan mereka.
Zakat menurut bahasa al-Qur'an juga disebut sedekah atau infak. Oleh karena itu Imam Mawardi mengatakan, "Sedekah itu adalah zakat dan zakat itu adalah sedekah; berbeda nama tetapi sama artinya." Namun makna sedekah dan infak lebih luas yang mencakup zakat yang wajib dikeluarkan dan juga berarti pemberian yang sunnah saja.
Jiwa mesti selalu dijaga kebersihan dan kesuciannya. Pokok pangkal kebersihan dan kesucian itu ialah bahwa semuanya ini adalah kepunyaan Allah. Tidak milik perseorangan, harta benda yang belum dikeluarkan sebagiannya yang telah ditentukan adalah kotor. Sebab itu maka zakat dan sedekah adalah salah satu diantara tiang rukun Islam dengan melihat ke-urgensian dari pada zakat tersebut.
Hamka menyebutkan beberapa pokok perbaikan mengenai soal harta benda dalam Islam dengan mengutip pendapat Rasyid Ridha dalam tafsirnya Tafsir juzu 11, Mesir, Al Mannar, hal 30, bahwa diantara pokok-pokok tersebut adalah:
1.    Islam mengakui milik pribadi, dan melarang memakan harta manusia dengan jalan yang batil.
2.    Dilarang melakukan riba dan segala macam perjudian.
3.    Dilarang menjadikan harta benda hanya beredar ditangan orang orang yang kaya saja. Belum pernah terjadi suatu zaman yang peredaran harta hanya beredar di tangan  orang-orang yang kaya saja sebagaimana yang terdapat pada bangsa-bangsa Barat sekarang ini, dengan adanya peraturan bank, dan perkongsian-perkongsian dan spekulasi, yang semuanya ini telah menimbulkan berontaknya kaum buruh kepada kaum modal.
4.    Orang-orang bodoh yang tidak pandai mengatur harta benda sendiri sehingga bisa hancur licin-tandas yang membawa rugi bagi dirinya sendiri dan ummatnya, tidaklah boleh memgang harta itu, melainkan dikuasai oleh penguasa.
5.    Wajib mengeluarkan zakat. Pada mulanya di zaman Makkah, zakat adalah sebagai anjuran keras saja, sebagai alamat iman, dipungut dan dibagikan saja secara isytirakiyah, gotong-royong. Tetapi setelah Islam berbentuk sebagai suatu kekuasaan, maka diadakanlah pungutan paksa.
Maksud isyrirakah atau sosialisme zaman makka itu ialah, kalau terdapat suatu jamaah Islamiyah yang terkurung atau terisolir disuatu tempat yang disana berkumpul yang kaya dengan yang miskin, wajiblah hukumnya atas yang kaya menjamin seluruh hidup yang miskin itu. Yaitu apabila zakat yang telah tertentu tidak mencukupi hidup si miskan tersebut.
6.    Islam mengatur zakat yang tertentu itu ialah dua setengah persen untuk emas perak dan perniagaan.  Dan sepersepuluh atau seperlima (sepuluh persen dan lima persen)  dari hasil pertanian makanan pokok. Demikian pula zakat binatang ternak yang telah ada ketentuannya di dalam kitab-kitab fikih.
7.    Perbelanjaan istri, keluarga, dan kerabat adalah wajib.
8.    Wajib membela orang-orang yang kesusahan, memberi makan  dan penginapan, kecuali terhadap penjahat.
9.    Menjadi kaffarah, yaitu dengan keagamaan karena berbuat suatu dosa tertentu.
10.    Selalu dianjurkan dan dipujikan memperbanyak sedekah Tathawu’ (derma, hibah,  hadiah, dan sebaginya).
11.    Dicela keras boros,  royal dan tabdzir berfoya-foya, dicela kerasa bahil, kedekut, dan kikir. Dinyatakan bahwa semuanya akan menyebabkan kehancuran dan kerunTuhan, baik untuk dirinya sendiri atau ummat dan negara.
12.    Dibolehkan ibaa-hah (berhias), berharum-harum dengan rizki baik (halal), dengan syarat tidak boros dan menyombong yang akan membawa pada menderita penyakit bagi diri atau membuat harta menjadi punah dan menimbulkan dengki, permusuhan dan segala gejala penyakit masyarakat. Dan keizinan berhias berindah-indah yang seperti tersebut itu adalah salah satu dari sebab meningkatnya kekayaan (produksi)
13.    Dipuji orang yang ekonomis dan sederhana di dalam memberi nafaqoh untuk diri sendiri dan keluarganya.
14.    Orang yang kaya tetapi bersyukur dipandang lebih utama dari pada orag miskin yang sabar. Dipujikan lagi bahwa tangan yang diatas lebih mulia daripada tngan yang berda dibawah. Dan amal kebajikan yang merata manfaatnya bagi banyak orang lebih afdhal daripada amalan-amalan yang manfaatnya hanya terbatas kepada yang membuatnya. Dan dijadikan pula suatu sedekah jariyah (wakaf) sebagai suatu sumber pahala yang tidak terputus-putus.
Selanjutnya dalam ayat ini Allah menyatakan kepada Rasulnya bahwa Shalawat atau do’a Nabi SAW yang beliau berikan seketika beliau menyambut penyerahan sedekah atau zakat itu adalah membawa ketentraman bagi hati mereka. Hilanglah segala jerih payah mereka itu, jika mereka datang membawa zakat, disambut oleh Rasulullah dengan muka jernih dan dia didoakan. Muka jernih dan shalawat dari Rasul itu menyebabkan barang yang berat menjadi ringan, dan yang jauh menjadi hampir. Mereka akan sudi selalu berzakat dan berkurban, karena sambutan Rasul yang baikk itu.
Dalam penutup ayat Allah bersabda: “dan Allah adalah maha mendengar lagi maha mengetahui”Sesudah Tuhan memerintahkan Rasulnya supaya sedekah ummat-Nya dengan shalawat dan do’a untuknya, Tuhan mengatakan bahwa Dia mendengar, artinya shalawat Nabi untuk ummat itu didengar oleh Tuhan, sebab itu akan dikabulkan-Nya. Maka bertambah tenteramlah hati si mu’min tadi. Dan Tuhan pun mendengan suara taubat hamba-Nya – yeng bertalian dengan ayat sebelumnya – yaitu merasa menyesal karena selama ini, amalnya masih campur aduk diantara yang baik dan yang buruk.
Dan Tuhan pun mengetahui akan keikhlasan hati mereka dengan mengeluarkan harta itu. Karena insaf bahwa harta itu Allah-lah yang sebenarnya punya, dan dia hanya mengambil manfaat karena izin Allah, sekarang dia belanjakan kepada jalan yang diridhoi oleh Allah yeng empunya dia.


BAB III
PENUTUP
Ayat ini merupakan perintah Allah SWT agar setiap orang Islam mengeluarkan zakat kerena dalam zakat itu banyak hikmah baik dzahir dan batin terhadap harta dan diri seseorang Insan.
Zakat secara bahasa berarti berkah, tumbuh, bertambah, suci, baik danbersih. Sedangkan secara istilah,  zakat adalah bagian tertentu dari harta yang dimiliki yang wajib dikeluarkan untuk orang-orang yang berhak menerimanya yang sesuai dengan tuntunan syariat.
Diantara hikmah-hikmah yang dapat kita ambil tersebut adalah:
a)    Zakat adalah merupakan rukun Islam yang ditunaikan oleh setiap orang Islam.
b)    Amil zakat disunatkan supaya mendoakan orang yang menunaikan zakat sebagaimana sunnah Rasulullah S.A.W.
c)    Zakat dapat membesihkan kekotoran dzahir harta yang dimiliki oleh seseorang Islam.
d)     Zakat dapat mensucikan kekotoran batin dalam diri seseorang Islam dari akhlak buruk seperti kikir, takbur dan ria' yang bercampur dengan amal soleh.
e)    Zakat ini disamping melambangkan hubungan seseorang muslim dengan Allah dengan melaksanakan perintah-Nya untuk mengeluarkan juga hubungan dengan manusia lain dengan memberikan bantuan harta dan membersihakn diri dari segala penyakit hati sesama manusia.
f)    Zakat memberikan ketenangan dan kebahagian ke dalam diri dan keluarga mereka yang mengeluarkan zakat.


Daftar Pustaka

Al-Qur’an dan Terjemahnya. 2007. Bandung: DIPONEGORO.
Al-Qur’anul Karim The Miracle.
Hamka. 1994. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: PUSTAKA PANJIMAS.
Ibn Katsir. Tafsir Ibnu Katsier. Penterjemah: Salim Bahreisy dan said Bahreisy,1988. Surabaya: PT. Bina Ilmu.
Jalalluddin al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsir Jalallain. Terjemah oleh bahrun abu bakar. 1997. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Hadist Sebagai Sumber Ajaran Islam

Hadis Sebagai Sumber Ajaran Islam
A.    Kedudukan Hadis
Seluruh umat islam, tanpa kecuali, telah sepakat bahwa hadis merupakan salah satu sumber ajaran islam. Dan ia menempati kedudukan yang sangat penting setelah Al-Quran. Kewajiban mengikuti hadis  bagi umat islam sama wajibnya dengan mengikuti Al-Quran. Hal ini karena hadis merupakan mubayyin terhadap Al-Quran. Tanpa memahami dan mengusai hadis, siapapun tidak bisa memahami Al-Quran. Sebaliknya, siapa pun tidak akan bisa memahami hadis tanpa memahami Al-Quran karena Al-Quran merupakan dasar hokum pertama, yang di dalamnya berisi garis besar syariat, dan hadis merupakan dasar hokum kedua, yang di dalamnya berisi penjabaran dan penjelasan Al-Quran. Dengan demikian kaitan, antara hadis dan Al-Quran memiliki kaitan yang sangat erat, yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan atau berjalan sendiri – sendiri.
Berdasarkan tersebut kedudukan hadis dalam islam tidak dapat diragukan lagi karena bterdapat penegasan yang banyak, baik di dalam Al-Quran maupun dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Sperti diuraikan dibawah ini.
1.     Dalil Al-Quran
Didalam Al-Quran banyak terdapat ayat-ayat yang menegaskan tentang kewajiban mengikuti Allah yang digandengkan dengan ketaatan mengikuti Rosul-Nya, seperti firman Allah(Q.S. Ali Imran :32 )

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".
Dalam Q.S Al-Hasyr ayat 7, Allah juga berfirman.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.
2.    Dalil Hadis Rasulullah SAW
Banyak juga hadis yang menegaskan kewajiban mengikuti ajaran – ajaran yang di bawa oleh Nabi SAW. Seperti sabda rosul SAW, sebagai berikut.

تر كت فيكم  ا مرين لن تضلوا أ بدا ما ان تمسكتم بهما كتا ب الله وسنة رسو له
Aku tinggalkan dua pusaka pada kalian. Jika kalian berpegang keduanya, niscaya tidak akan tersesat yaitu kitab Allah ( Al-Quran) dan sunnah Rasul-Nya.
(H.R. Al-Hakim dari Abu Hurairah)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Nabi SAW. Di beri Al-kitab dan sunnah, dan mewajibkan kita berpegang teguh pada keduanya, serta mengambil yang ada yang  pada sunnah seperti mengambil pada Al-Kitab.
3.    Ijma’
Seluruh umat islam telah sepakat untuk mengamalkan hadis bahkan hal itu mereka anggap sejalan dengan memenuhi panggilan Allah SWT, dan Rasul-Nya yang terpercaya. Allah juga memberikan kesaksian bagi Rasulullah SAW. Bahwa beliau hanya mengikuti apa yang di wahyukan. Allah SWT. Berfirman :

قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلا تَتَفَكَّرُونَ

Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya)?

B.    Fungsi Hadis Terhadap Al-Quran
Al-Quran sebagai sumber ajaran pertama memuat ajaran-ajaran yang bersifat umum, yang perlu dijelaskan lebih lanjut dan terperinci. Disinila hadis menduduki dan menempati fungsinya sebagai sumber ajaran yang kedua, ia menjadi penjelas (mubayyin) isi Al-Quran hal ini sesuai dengan firman Allah SWT.

بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,(Q.S. An-Nahl : 44).
Dalam hubungannya dengan dengan Al-Quran, hadis berfungsi sebagai penafsir , pensyarah, dan penjelas dari ayat-ayat Al-Quran tersebut. Yaitu sebagai berikut.
a.    Bayan At-Tafsir
Bayan At-Tafsir adalah menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal dan musytarak. Contohnya kita diperintahkan shalat, namun Al-Quran tidak menjelaskan bagaimana tata cara shalat, tidak menerangkan rukun-rukunnya dan kapan waktu pelaksanaannya. Semua ayat tentang kewajiban shalat tersebut dijelaskan oleh Nabi SAW. Dengan sabdanya,

صلوا كما رأيتمو ني أ صلي ( رواهالبخاري )
Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat ( H.R.Bukhari )
b.    Bayan At-Takrir
Bayan At-Takrir adalah hadis yang berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan Al-Quran. Contohnya adalah hadis Nabi SAW. Yang memeperkuat firman Allah Q.S.Al-Baqoroh : 185 yaitu.

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه.....
Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa ……(Q.S Al-Baqoroh)

Ayat tersebut di taqrir oleh hadis nabi Nabi SAW ,, yaitu.

اذا رأيتموه فصو موا وإذارأيتموه فأفطروا
….Apabila kalian melihat (ru’yat) bulan, berpuasalah, begitupula apabila melihat (ru’yat) bulan itu,berbukalah…..(H.R. Muslim dari Ibnu Umar)
c.    Bayan An-Nasakh
Para ulama, baik mutaqaddimin maupun muta’akhirin berbeda pendapat dalam mendefinisikan bayan An-Naskh. Perbedaan ini terjadi karena perbedaan diantara mereka dalam mendefinisikan kata naskh dari segi kebahasaan.
Menurut ulama mutaqaddimin yang dimaksud dengan bayan an-naskh adalah adanya dalil syara’ yang dating kemudian. Dapat dipahami bahwa hadis sebagai ketentuan yang datang berikutnya dapat menghapus ketentuan-ketentua atau isi Al-Quran yang datang kemudian.
Salah satu contoh yang bias di ajukan para ulama adalah sabda rasul SAW. Dari Abu Umamah Al-Bahili

ان الله قد أعطى كل ذي حق حقه فلاوصية لوارث
Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada tiap-tiap orang haknya(masing-masing). Maka, tidak ada wasiat bagi ahli waris.(H.R. Ahmad dan Al-arba’ah, kecuali An-Nasa’i, hadis ini dinilai hasan oleh ahmat dan At-Tirmidi)
Hadis ini menurut mereka men-naskh isi Al-Quran surat Al-Baqoroh:180, yakni

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَبِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ
Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapa dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.(Q.S Al-Baqoroh:180)

bahaya tafsir pluralis

Bahaya Tafsir Pluralis       

Kaum pluralis sering menggunakan pembenar surat Al Baqarah ayat 62 sebagai ayat rujukan "Pluralisme Agama". Di bawah ini Surat Al-Baqarah ayat 62 ditinjau dari segi bahasa

Oleh: Khoiruddin


Salah satu ayat pembenar yang sering dijadikan kaum pluralis memproklamirkan hukum syar’i semua agama adalah benar adalah Surat Al Baqarah ayat 62, yang artinya berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ,orang Yahudi, orang Nashroni dan orang-orang Shobiin, siapa saja yang beriman kepada Allah dan Rasulnya dan melakukan kebaikan (menurut Islam) mereka mendapat pahala disisi Nya dan tidak takut atas mereka dan tidak merasa sedih.”

Ayat inilah sering diekspolitasi kaum pluralis untuk mengkampanyekan keharusan pluralisme agama di negeri-negeri Islam dengan tujuan agar ummat Islam tidak lagi fanatisme terhadap agamanya.

Sebagaimana diketahui bersama, semenjak bergulirnya ide demokrasi dan kebebasan HAM oleh Barat, maka sejak itu pulalah lahir paham, di mana, seseorang tidak boleh mengklaim bahwa agamanya yang paling benar.

Untuk melanjutkan diskusi ini, marilah kita dudukkan makna ayat di atas kalimat demi kalimat sebagai berikut:

Pertama, orang yang beriman yaitu orang –orang yang membenarkan kepada syariat yang dibawa oleh RasulNya serta  beriman kepada allah dan hari akhir.

Kedua, orang Yahudi yakni; mereka beriman  dan berpegang teguh kepada kitab Taurat serta sunnah Nabi Musa ‘alaihis salam dan tidak mau tunduk kepada Nabi Isa ‘alaihis salam. Maka, mereka adalah kaum yang rusak.

Ketiga, orang Nashrani yaitu, mereka beriman dan berpegang teguh kepada kitab injil serta serta mengikuti syariat Nabi Isa ‘alaihis salam tetapi setelah kedatangan Nabi Muhammad shollaullahu alaihi wasallam. Namun, mereka tidak mau beriman padanya. Golongan ini juga rusak.

Keempat, orang Shobiin yaitu mereka kaum penyembah Malaikat, memegang kepada kitab Zabur dan mereka mempunyai aturan (agama) yang tetap untuk diikutinya, dan sebagian ulama’berkata mereka adalah orang-orang yang tidak bisa sampai da’wahnya  Nabi (Ibnu Katsir Juz.I halaman 105; Ath-Thabari Juz I halaman 361).

Karenanya, untuk menetapkan hukum kepada masing-masing golongan itu --Yahudi, Nashrani dan Shobiin--  dan disebut orang beriman, mereka harus mengaku iman kepada Allah dan hari akhir. Oleh sebab itu,  mereka wajib tunduk dan patuh serta mengikuti  Nabi Muhammad shollaullahu alaihi wasallam.

Tinjauan Bahasa

Al-Qur’an adalah merupakan sebuah kitab suci yang sangat istimewa. Telah beratus-ratus tahun orang mengkaji dan bahkan menelitinya. Salah satu keistimewaannya adalah, bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah melalui kajian bahasa melalui ilmu balaghah.

Huruf “INNA” dalam surat Al-Baqarah ayat 62 di atas adalah berfungsi menashobkan isim dan merafa’kan khobar. Namun huruf  di depannya tidak langsung nashob harakatnya. Melainkan terdiri dari isim mausul dan shilahnya begitu juga khobarnya “INNA” tidak langsung rafa’ i’rabnya.

Karena terdiri dari jumlah mubtada dan khobar atau musnad ilaih dan musnad dalam ilmu balaghah. Yang mana mubtada’nya terdiri dari fi’il syarat dan khobarnya tersusun dari jumlah ismiyah dengan jar majrur muqoddam sebagai jawabnya syarat. Sebagaimana diketahui, dalam bahasa Arab setiap kalimah itu mempunyai kedudukan i’rab sendiri, sehingga kedudukan isim maushul dan shilahnya itu mahal nashob (menempati) sebagai isim “INNA”.

Sedang khobar “INNA” berupa jumlah mubtada’ dan khobar yang terdiri syarat dan jawab. Ayat diatas sangat indah gaya bahasanya, agar mukhotob benar-benar tertegun sewaktu ayat-ayat Al-Quran dibacakan oleh Muhammad, sehingga sebagian dari mereka langsung percaya bahwa Muhammad benar-benar utusan Allah. Itulah hebatnya bahasa Arab.

Tidak hanya manusia yang tertegun bahkan jin pun penuh keheranan sewaktu Al-Quran dibacakan (lihat surat jin ayat 1).

Musnad ilaih atau isim “INNA” harus ma’rifat sedang jumlah isim ma’rifat itu ada 7 (Tujuh) yakni; masuknya al, isim, dhomir, ‘alam, isyaroh,  istifham, mudhof, dan isim maushul.

Dari masing-masing isim ini mempunyai nuktah (faidah) sendiri-sendiri. Adapun ma’rifatnya ayat diatas berupa isim maushul, hal ini menunjukkan suatu ketetapan yang tidak bisa lagi diragukan maknanya, karena bersambungnya antara kalimat yang satu dengan yang lainnya.

Sedangkan khobar “INNA” yang terdiri dari jumlah mubtada’ dan khobar. Mubtada’nya “fi’il syarat” yaitu “man amana” dan khobarnya jumlah dari “fa lahum aj ruhum”, sebagai jawab syarat kalimat tersebut juga terdiri dari mubtada dan khobar yang susunan kalimatnya khobar didahulukan terdiri dari jar dan majrur yang semestinya tidak boleh mendahului. Ini menunjukkan makna tersendiri yakni untuk memperkuat suatu makna. (Syarah ‘uqudul juman fi ‘ilmi ma’ani wal bayan bab musnad ilaih hal ;16 oleh Jalalluddin As-suyuthi).

Itulah hebarnya bahasa Arab disbanding bahasa lain, sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 103 yang artinya: “Dan bahwa Al-Qur’an ini adalah bahasa arab yang jelas”

Karenanya, huruf “FA’ ” dalam ayat itu merupakan jawaban “fi’il syarat”. Perlu diingat jawab ada kalanya memakai huruf “FA’ atau WAWU, dan atau dari kedua huruf tadi. Huruf  “Fa" memperjelas suatu jawaban yang pasti, karena jumlah sesudahnya berupa tarkib mubtada’ dan khobar juga, dengan muqoddamnya khobar “Fa Lahum” memberi faidahnya tersendiri. Menurut perundang-undangan bahasa Arab, disusunnya dari beberapa jumlah baik musnad ilaih dan maupun musnadnya ini mempunyai rahasia atau faidah tersendiri.

Menurut kitab, ‘Balaghoh Uquduljuman, bab ahwalul musnad halaman 31, ada beberapa rahasia mubtada’ (musnad ilaih) dari isim maushul;  Pertama, merupakan ketetapan sebuah hukum. Kedua, untuk pengagungan. Ketiga, supaya mukhotob mengerti dengan jelas. Keempat, tidak baik jika disebutkan namanya secara langsung. Kelima, untuk mengingatkan mukhotob dari kesalahan.  (Balaghoh Uquduljuman, bab ahwalul musnad ilaih halaman 16).

Jadi sebenarnya, makna  ayat Al-Qur’an itu sudah jelas gamblang. Bahwa, diperintahkan setelah datangnya Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam semua orang wajib mengikutinya dan menerima ajarannya. Karenanya, ayat di atas menjadi satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya, sebab jika dipisahkan akan menimbulkan perbedaan makna yang jauh sekali dari makna yang dimaksud.

Otoritas

Di dunia ini, disepakati otoritas dalam ilmu. Bahkan dalam ilmu studi Al-Quran pun demikian. Karenanya, ada syarat-syarat bagi seseorang yang ingin menafsirkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Dalam kitab, ‘Manna’ulqothon fi ulumil Qur’an’ (bab syurutul mufassir halaman 329) disebutkan, bahkan, seharusnya, ayat Al-Qur’an ditafsiri dengan Al-Qur’an. Kemudian dengan Al-hadits (Nabi), shahabat, tabi’in dan harus pula mengerti tentang qa’idah-qa’idah bahasa Arab dan cabang-cabangnya. Juga bersihnya keyakinan, tidak emosional dan teliti dalam memahami permasalahan.

Maka dakwaan bagi kaum pluralis bahwa ayat 62 Al-Baqoroh tadi sebagai dalil tentang semua agama benar adalah tidak berhujjah sama sekali dan mereka sengaja untuk mengkaburkan makna ayat dengan tujuan agar ummat Islam mau membenarkan agama-agama selain Islam.

Para pluralis, mereka lupa atau memang tidak tau bahwa kalam itu ada washol dan fashol dalam ayat ini adalah kalam washol buktinya kalimat berikutnya disambung dengan huruf athof  “WAWU” yang maknanya masih berhubungan dengan kalimat yang di depan. Jadi tidak bisa dipisah begitu saja maknanya (Balaghoh uquduljuman bab washol dan fashol halaman 58).

Alasan bahwa semua agama sama-sama memerintah suatu kebaikan adalah sema-mata menuruti hawa nafsunya saja, alias tidak berdasar sama sekali.

Bahkan Nabi mengatakan, “Barang siapa yang melakukan suatu amal perbuatan yang tidak ada atasnya perintahku, maka amal perbuatan itu ditolak.”

Oleh karenanya, bisa dipahami jika ada tudujan bahwa kaum pluralis sengaja membuat makna-makna dalam Qur’an dengan kemasan yang bagus dan indah untuk mendakwahkan ide-idenya agar laku dipasaran. Masuk akal jika orang yang tidak jeli dalam memahami ayat Al-Qur'an  berakibat terseret olehnya. Seperti halnya orang yang memaknai agama Islam dengan makna 'menyerahkan diri'.


Penulis adalah anggota majelis Tarjih Muhammadiyah Jawa Timur

kemunduran pendidikan islam

Apa faktor-faktor yang menjadi penyebab Kemunduran Pendidikan Islam? Seri artikel pendidikan Islam untuk anak muslim.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Alkhoirot
Pondok Pesantren Alkhoirot

Ada perbedaan pendapat tentang sejak kapan pendidikan Islam mulai mengalami kemunduran dari masa keemasannya. Sebagian sarjana berpendapat, kemunduran dan kemandekan keilmuan Islam dimulai dari abad ke-11 masehi dan seterusnya.

Sebagian yang lain mengatakan ia bermula dari abad ke-12 sampai abad ke-20. Ada yang mengatakan kemunduran Islam terjadi dari abad ke-15 atau 16 masehi mengingat masih banyaknya karya dan penemuan sarjana muslim di bidang sains dan teknologi dalam kurun waktu sebelum abad ke-16. Yang benar dari ketiga pendapat di atas tentu tergantung dari sisi mana kita memahami makna dari kemunduran itu sendiri. Namun yang jelas, semua sarjana sepakat terjadinya kemunduran pendidikan Islam terjadi sejak abad ke-16 sampai sekarang.

Pertanyaan yang tak kalah penting adalah apa faktor  utama penyebab kemunduran pendidikan dan keilmuan Islam? Berbagai pandangan muncul antara lain (a) perubahan teologi dari Mu’tazilah ke Asy’ariyah yang cenderung fatalistik; (b) pengaruh Imam Ghazali dengan pendekatan sufistiknya dan penentangannya yang keras pada filsafat; (c) serangan atau invasi musuh dari luar yang datang silih berganti menghabiskan sumber daya; (d) perdebatan intelektual yang kurang ditolerir dan (e) kebebasan berpendapat yang dibatasi.

Kemiskinan Penyebab Mundurnya Pendidikan

Ibnu Khaldun (1332-1406 M) dalam Al Muqaddimah membahas sejumlah faktor yang sangat penting untuk tercipta tumbuh-kembangnya sains dan ilmu pengetahuan lain serta hal-hal yang akan berakibat pada kemundurannya.

Ibnu Khaldun mengatakan bahwa apabila suatu profesi atau keahlian tertentu sangat dibutuhkan, maka banyak orang akan mencoba untuk mempelajarinya, begitu juga apabila tidak ada permintaan maka keahlian tersebut akan diabaikan dan hilang. Apalagi, kalau kebutuhan itu datangnya dari negara, karena negara merupakan pasar terbesar yang dapat menampung sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu, kemunduran atau kemiskinan suatu negara akan berdampak pada mundurnya keahlian.

Dalam bab lain di kitab yang sama Ibnu Khaldun mengatakan bahwa negara yang hampir bangkrut akan kekurangan tenaga ahli. Ketika sebuah negara menjadi lemah dan miskin, penduduknya berkurang, maka SDM pun hilang. Karena itu pula, tumbuh-suburnya sains berbanding lurus dengan meningkatnya kemakmuran dan besarnya peradaban suatu negara.

Ide Ibnu Khaldun itu disepakati oleh sarjana modern seperti J. Bernal. Bernal mengatakan bahwa lajunya pertumbuhan sains berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi. Begitu juga sebaliknya, masyarakat yang stagnan dan dekaden selalu bersamaan dengan periode kemerosotan aktivitas ekonomi suatu negara.

Mengapa Negara Islam Miskin?

Apabila kemiskinan menjadi penyebab utama dari kemunduran pendidikan di negara-negara Islam sejak abad ke-16 sampai sekarang, maka pertanyaan berikutnya adalah apa penyebab kemiskinan negara-negara Islam yang asalnya makmur itu?

Pandangan umum dari soal ini sangat beragam antara lain adalah terjadinya mismanajemen politik pasca era khilafah awal (abad ke-10 dan seterusnya), keterlibatan asing dengan pasung invasi dan kekuatan kolonialisme yakni Perang Salib pada abad ke-11, Empirium Mongol pada abad ke-13, Perang Salib II abad ke-15 dan empirium penjajah Eropa pada abad ke-19 dan 20.

Ahmad Y Hassan, Professor Emeritus di Institute for the History of Arabic Science (IHAS), University of Aleppo, Kanada, membagi penyebab kemunduran negara Islam dalam beberapa faktor. Yang utama adalah invasi kekuatan asing, bencana alam dan epidemik, hilangnya Perdagangan Internasional.

Invasi Asing

Sebagaimana disinggung di muka, negara-negara Islam diserang dari Timur oleh Pasukan Mongol  dan Barat oleh pasukan Salib. Antara tahun 1096 sampai 1291 tidak kurang dari tujuh kali invasi Eropa dengan nama Perang Salib dilakukan terhadap kawasan Arab; dan satu Perang Salib atas Konstantinopel (sekarang Turki). Tiga yang pertama yaitu pada tahun 1096, 1147, 1189 difokuskan pada Suriah, termasuk Palestina. Perang Salib keempat (1204) menyerang Konstantinopel, sedang Perang Salib yang kelima, keenam dan ketujuh diarahkan ke Tunisia.

Usaha perlawanan untuk mengusir invasi Pasukan Salib selama dua abad telah menguras perekonomian dan memperlemah pusat-pusat perkotaan Arab. Tugas besar itu baru selesai setelah Suriah dan Mesir bersatu di bawah Al Ayyubi dan dinasti Mamluks pasukan Salib dapat ditaklukkan dan diusir.

Pada pertengahan abad ke-13 masehi, saat pasukan Islam sedang sibuk mempertahankan diri mengusir Pasukan Salib, invasi lain datang dari Timur. Jengis Khan dari Mongolia melancarkan serangan mematikan. Kawasan Islam bagian Timur seperti Samarkand, Bukhara dan Khowarizmi jatuh ke tangan mereka. Setelah Jengis Khan meninggal pada 1227, invasi diteruskan oleh Hulagu dengan pasukan sebanyak 200.000. Pada Februari 1258 Baghdad jatuh ke tangan mereka. Khalifah Abbasiyah Al Musta’sim terbunuh dan sistem khilafah dihapus. Peristiwa ini menandai akhir dari era keemasan peradaban Islam.

Bencana Alam dan Epidemik

Bencana alam menjadi fenomena Abad Pertengahan yang juga sangat mempengarahi aspek sosial dan ekonomi. Pada 968M, kekeringan pada sungai Nil di Mesir telah menyebabkan kelaparan dan kematian sebanyak 600.000 orang. Kelaparan dengan sebab keringnya sungai Nil juga terjadi selama tujuh tahun antara 1066 sampai 1072.  Kelaparan ini menjadi permulaan dari sejumlah bencana alama yang berdampak pada dispopulasi Mesir. Pada 1201 dan 1202  kelaparan besar yang diikuti dengan epidemik dan memakan korban banyak yang meninggal kembali terjadi di Kairo.

Namun, bencana terbesar yang terjadi pada Abad Pertengahan adalah epidemik yang terjadi selama tiga tahun berturut-turut yaitu pada 1347, 1348 dan 1349 yang di Eropa dikenal dengan Black Death (Kematian Hitam) yang mengancam tidak hanya dunia Islam tapi juga Eropa. Ribuan meninggal setiap hari. Penduduk Mesir, Syria dan Irak berkurang sepertiga. Black Death disusul dengan sejumlah epidemik sampai abad ke-19.

Hilangnya Kontrol Perdagangan Dunia

Negara Islam pada abad pertengahan menguasai rute perdagangan dunia. Timur Tengah menjadi pusat perputaran ekonomi internasional. Dan itu antara lain sebabnya mereka memiliki sumber daya ekonomi yang besar.. Akan tetapi, penemuan Dunia Baru dan rute baru ke Timur telah membawa keuntungan ekonomi luar biasa bagi Eropa yang makmur dengan emas, perak, rempah-rempah dan produk lain hasil rampasan. Distribusi kekayaan antara Eropa dan kawasan Islam berubah secara drastis. Pusat perdagangan dunia pun telah berubah dari laut Mediterania dan Samudera Hindia ke laut Baltik dan Samudera Atlantik.

Bangkitnya empirium perdagangan menciptakan sebuah sistem eksploitasi di mana Eropa menjadi penyuplai produk manufaktur bernilai tinggi sementara negara-negara jajahan, termasuk negara-negara muslim, menyuplai bahan mentahnya.

Kesimpulan

Ketertinggalan dan kemerosotan pendidikan umat Islam dari era keemasan Islam pada Abad Pertengahan sampai sekarang tidak ada hubungannya dengan mazhab teologi Asy’ariah yang cenderung fatalistik; atau pengaruh Ihya Ulumuddin-nya Al Ghazali yang menyerukan umat lari ke tasawwuf. Tidak pula dari pengaruh Al Ghazali yang antipati terhadap filsafat.

Penyebab utama ketertinggalan suatu negara dalam pendidikan adalah faktor kemiskinan atau keterbelakangan ekonomi. Fakta bahwa negara-negara Islam masuk kategori negara berkembang (developing countries) dan baru menikmati kemerdekaan sekitar enam atau tujuh dekade lalu menunjukkan bahwa tidak ada satupun negara Islam yang termasuk negara maju (developed countries) yang kaya dan maju secara teknologi dan sains .

Namun demikian, pintu kemajuan masih akan selalu terbuka bagi siapa saja yang memiliki determinasi untuk belajar dari sejarah masa lalu yang akan membantu kita melihat ke masa depan.

menikmati pagi dengan secangkir kopi

Selamat pagi Indonesia.....
udara pagi merupakan udara yang sangat segar dan sejuk serta masih alami mungkin karna belum ada polusi udara dan sebagainya....orang masih pada tidur semua...hehe
Di indonesia ini tak jarang masyarakatnya menikmati pagi hari dengan secangkir kopi, khususnya saya...hehehe..(biar tidak ngantuk).
okelah teman...dalammenikmati suasana pagi hari,memang semua orang tidak sama, ada yang olah raga,sekedar jalan-jalan, dan tak jarang pula menikmati dengan secang kir  kopi tentunya...hahah

sampai disini dulu....
selamt pagi indonesiaku.....

Program "Indonesia Mengajar" Mengusung Tujuan Ganda

Makassar (ANTARA) - Rektor Universitas Paramadina Dr Anis Baswedan mengatakan program "Indonesia mengajar" mengusung tujuan ganda.

Pertama untuk mengisi kekurangan guru berkualitas di SD di daerah-daerah dan kedua untuk membekali anak-anak muda terbaik yang berpotensi menjadi pemimpin kelas dunia (world-class leader) di bidangnya dengan pengalaman hidup dan bekerja bersama rakyat kecil di pelosok Indonesia.

Hal itu dikemukakan penggagas program Indonesia mengajar, Anis Baswedan saat diterima Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Dr Idrus A Paturusi yang didampingi Wakil Rektor I, II, dan III, di Makassar, Senin.

Program Indonesia mengajar sementara ini dipilih daerah Bengkalis, Tulang Bawang Barat, Halmahera Selatan, Majene (Sulawesi Barat), dan Paser (Kalimantan Timur).

"Mereka itu berangkat menuju desa-desa terpencil bertepatan hari Pahlawan 10 November 2010," katanya.

Selama setahun mereka bertugas akan memberi inspirasi bagi anak-anak di berbagai pelosok, Kita berharap juga, Unhas menjadi rumah dan merasakan keindonesiaan mereka, ujar Anis Baswedan.

Rektor Unhas Idrus A Paturusi menyambut baik program ini dalam upaya menjaring anak-anak muda berbakat di seluruh tanah air.

Idrus memberikan contoh, para murid sekolah dasar di Papua karena kekurangan guru harus diajar oleh mereka yang justru baru tamat sekolah dasar.

Indonesia mengajar pada angkatan I menghimpun 51 alumni terbaik dari 10 perguruan tinggi di Indonesia. Ke-10 Perguruan Tinggi itu, ITB (14 alumni), UI (13), UGM (7), Unair (5), IPB, Undip, dan Unpad masing-masing tiga alumni, sementara Paramadina, ITS, dan Unhas masing-masing satu orang alumni.

Alumni-alumni ini dua di antaranya lulus dengan yudisium cumlaude yakni seorang dari jurusan Elektro ITB dan seorang lainnya dari Jurusan Manajemen Unpad Bandung. Beberapa di antaranya bahkan ada yang rela meninggalkan pekerjaan mereka yang sudah mapan. Mereka ini terdiri atas 26 orang laki-laki dan 25 perempuan.

Dilihat dari segi indeks prestasi kumulatif (IPK) 37 orang ber-IPK 3,25, dan 19 orang dengan IPK antara 2,8-3,24. Dari segi usia, 32 orang berusia 23 tahun, seorang antara 26-27 tahun, dan 18 orang berusia antara 24-25 tahun. Sebanyak 26 orang di antara mereka sudah terlibat dalam pekerjaan profesional, sementara 25 orang lainnya belum bekerja.

Dari 51 orang pengajar muda yang tergabung dalam "Indonesia Mengajar", Unhas menyumbang seorang alumninya yang tergabung dalam angkatan I/2010.

Dia adalah Yunita Ekasari Bahrun (24 th), alumni Pengembangan Wilayah Kota Teknik Arsitektur Unhas tahun 2010. Yunita rela meninggalkan posisinya sebagai Asisten Relasi Eksternal perusahaan tambang nikel PT Inco Tbk, perusahaan nikel transnasional yang sebenarnya mampu memberinya kesejahteraan materi yang sangat memadai.

Yunita merupaka finalis mahasiswa berprestasi tingkat Unhas dan termasuk wisudawan terbaik Jurusan Arsitektur periode III 2009-2010.

ADVERTISER
  • ROXX SHARE
  • PRESENTS
  • WIDGETS
  • TEMPLATES
  • WORM TECHNIQUES
  • INSPIRATIONS

Entri Populer

Special Keywords



alhamdulilah puji syukur kehadirat Allah swt,,yang memberi segala nikmat kepada kita....
Seiring dengan perjalanan itu kami terus berusaha memaksimalkan mungkin mengadakan penyempurnaan, baik bahasa maupun isinya. Dengan adanya penyempurnaan itu, sekalipun belum sempurna, mudah-mudahan dapat mempermudah para pembaca ketika sudah membuka blog ini. Semoga blog ini dapat bermanfaat bagi pembaca maupun yang mendengarkan. Amin .

Categories

My Blog List ( DO FOLLOW )