Loading
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Tentang CINTA

Cinta yang tak pernah habis untuk dibicarakan, entah berapa ribu bahkan jutaan kata-kata mutiara tentang cinta untuk diucapkan, direnungkan, dikhayalkan, namun belum tentu bisa direalisasikan. Entahlah, cinta memang aneh dan bisa diungkapkan dengan kata-kata mutiara cinta sesuai dengan situasi dan kondisi. Kumpulan kata-kata mutiara cinta dibawah ini mungkin bisa memberi inspirasi bagi anda untuk mengungkapkan betapa dalam cinta anda pada si dia.

Cinta sebenarnya tidak buta. Cinta adalah sesuatu yang murni, luhur dan diperlukan.
Yang buta adalah bila cinta itu menguasai dirimu tanpa suatu pertimbangan.

Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak, bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka,
bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merasa rindu dan cemburu.

Cinta bukanlah dari kata-kata tetapi dari segumpal keinginan diberi pada hati yang memerlukan.
Tangisan juga bukanlah pengobat cinta karena ia tidak mengerti perjalanan hati nurani.

Kejarlah cita-cita sebelum cinta, apabila tercapainya cita-cita maka dengan sendirinya cinta itu akan hadir.

Cinta seringkali akan lari bila kita mencari, tetapi cinta jua seringkali dibiarkan pergi bila ia menghampiri.

Cinta pertama adalah kenangan, Cinta kedua adalah pelajaran, dan cinta yang seterusnya adalah satu keperluan
karena hidup tanpa cinta bagaikan masakan tanpa garam. Karena itu jagalah cinta yang dianugerahkan itu
sebaik-baiknya agar ia terus mekar dan wangi sepanjang musim.

Kecewa bercinta bukan berarti dunia sudah berakhir. Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu
yang telah dilupakan. Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu
sampai kamu melupakan kegagalan kamu dan rasa kekecewaan itu.

Hanya diperlukan waktu semenit untuk menafsir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan
sehari untuk mencintai seseorang, tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.

Hidup tanpa cinta sepeeti makanan tanpa garam. Oleh karena itu, kejarlah cinta seperti kau mengejar waktu dan apabila kau sudah mendapat cinta itu, jagalah ia seperti kau menjaga dirimu. Sesungguhnya cinta itu karunia Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam sebuah percintaan, janganlah kamu sesali perpisahan tetapi sesalilah pertemuan.
Karena tanpa pertemua tidak akan ada perpisahan. Menikahlah dengan orang yang lebih mencintai diri kita
daripada kita mencintai diri orang itu. Itu lebih baik daripada menikahi orang yang kita cintai tetapi tidak menyintai
diri kita karena adalah lebih mudah mengubah pendirian diri sendiri daripada mengubah pendirian orang lain.

Cinta yang suci dapat dilihat dari pengorbanan seseorang, bukanlah dari pemberian semata.

Ibaratkalah kehilangan cinta itu seumpama hilangnya cincin permata di lautan luas yang tiada bertepi dan harus dilupakan.

Cinta tidak selalu bersama jodoh, tapi jodoh selalu bersama cinta.

Kata pujangga ; Cinta letaknya di hati, meskipun tersembunyi, namun getarannya jelas sekali. Ia mampu mempengaruhi fikiran sekaligus mengendalikan tindakan kita sehingga kadangkala kita melakukan hal terbodoh tanpa kita sadari.

Cinta dimulai dengan senyuman, tuumbuh dengan dekapan dan seringkali berakhir dengan air mata.

Bisa Dikatakan Dewasa

 sering kali kita mendengar kata-kata dewasa di benak kita dan kita sendiri pun bertanya-tanya kepada diri sendiri bagaimana sih seseorang itu bisa dikatakan sudah dewasa,tentunya hal ini bukan hanya dewasa fisiknya melainkan hati dan akal fikirannya merupakan poin yang terpenting..dan timbullah dari saya untuk mencari tahu bagaimana kita kita itu bisa dikatakan dewasa..
mengutip dari http://duadua.blogsome.com/ bahwasannya disini mungkin sedikit dijelaskan tentang arti sebuah kedewasaan.Ketika ,kita memutuskan untuk menjadi lebih dewasa, kita mengetahui bahwa kita harus belajar untuk itu. Sebab, sesuatu yang baru tidak akan bisa dilakukan, kecuali dengan mempelajarinya. Salah satu bentuk pembelajaran adalah mengetahui detail dari sebuah persoalan.
Mari kita kuliti sampai esensi kata dewasa. Dewasa berarti bisa menempatkan sesuatu secara tepat. Jadi, kebanyakan orang tidak bisa dikatakan dewasa secara utuh. Kebanyakan orang, dewasa pada beberapa sisi dan tidak dewasa pada sisi yang lain. Tapi, dengan pembelajaran, sebuah kematangan-yaitu sisi kedewasaan yang lebih banyak daripada sisi ketidakdewasaan- dapat diraih. Sebuah kematangan yang ditandai dengan tercapainya sebagian besar ciri-ciri kedewasaan.

Kedewasaan mempunyai ciri-ciri yaitu: sikap yang tepat, keberanian, kesabaran, tanggung jawab, percaya diri dan berpikir secara luas. Ini adalah penyederhanaan dari berbagai macam ciri. Ciri yang pertama, sikap yang tepat. Orang yang ingin belajar untuk lebih dewasa harus mengetahui bagaimana bersikap yang tepat pada kondisi, situasi dan orang yang berbeda-beda. Bagaimana kita bersikap kepada yang lebih tua tentu berbeda dengan bagaimana kita bersikap dengan kawan sebaya, apalagi dengan yang lebih muda.

Juga bagaimana kita bersikap yang tepat pada kondisi yang mengharuskan kita seperti itu. Cara kita berbicara, bertingkah, bercanda, dan lain-lain juga harus secara tepat. Kita bisa mempelajari hal ini di kitab Fiqhul Akhlaq wal Muamalat bainal Mu’minin karya Syaikh Mustafa Al ‘Adawy (Sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Fiqih Akhlak, terbitan Qisthi Press)

Ciri yang kedua adalah keberanian. Menurut Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, keberanian adalah salah satu bentuk kesabaran. Keberanian adalah sikap menahan diri dan terus melangkah walaupun muncul ketakutan, ketidakberdayaan, sedikit harapan dan rasa sakit. Jadi, keberanian bukan hanya dalam bentuk kekerasan. Orang yang masih berjuang di tengah kekurangan, adalah orang yang berani. Seorang pengusaha dengan modal tidak seberapa adalah orang yang berani. Dan masih banyak lagi.

Sebenarnya, karakter keberanian sebagai ciri kedewasaan, bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Kita lihat, seekor ayam yang penakutpun akan menjadi galak dan berani ketika mempunyai anak yang masih kecil. Kita bisa mengambil hikmah dari hal ini, bahwa karakteristik melindungi harus kita miliki agar salah satu ciri kedewasaan terpenuhi.

Selain karakter melindungi, bentuk keberanian lain adalah kemandirian. Seorang dewasa, akan sangat malu apabila selalu menggantungkan diri kepada orang lain. Orang yang dewasa, akan berusaha melakukan sesuatu dengan sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain. Coba Anda bayangkan, ketika kita menikah, pastinya mau tidak mau kita harus mandiri. Tidak boleh kita terus menerus bergantung kepada orang tua. Nah, itu sebabnya saya katakan bahwa kemandirian adalah salah satu bentuk keberanian. Walaupun begitu, ini tidak menafikkan sikap meminta tolong, ketika batas kemampuan melingkupi. Coba Anda baca kembali tulisan yang berjudul Meminta Tolong.

Selain karakter melindungi dan kemandirian, sebenarnya sikap mengalah juga merupakan bentuk keberanian. Sifat mengalah adalah sebuah keberanian yang dihiasi oleh kebijaksanaan. Dan bukan merupakan sifat pecundang. Di dalam tulisan yang berjudul Alasan Mengalah, dikatakan bahwa sifat mengalah harus menjadi karakter kita. Tapi, tidak menafikkan tindakan membalas, apabila sikap orang lain sudah keterlaluan. Orang yang bijaksana, mengetahui kapan harus mengalah dan kapan harus membalas.

Ciri yang ketiga, kesabaran. Orang yang dewasa adalah orang yang mampu menahan diri dari sesuatu yang menyenangkan maupun yang tidak mengenakkan. Ketika ditimpa musibah, kita harus bersabar. Ketika mendapatkan nikmat, bentuk kesabaran kita adalah bersyukur dan menahan diri untuk tidak pamer, meluaskan hati kita untuk berbagi dan bentuk kesabaran yang lain.

Diantara bentuk kesabaran adalah sikap tenang ketika ditimpa musibah. Dengan tidak menjerit-jerit, menjambak rambut dan tindakan negatif lainnya. Manusiawi ketika kita bersedih saat kehilangan sesuatu, tapi diperlukan sebuah kesabaran dalam menyikapinya. Nah, matang atau tidak matangnya pikiran kita bisa dilihat dari hal ini. Memang sangat berat, oleh sebab itu kita harus meminta tolong kepada Allah subhanahu wa Ta’ala.

Ciri yang keempat adalah tanggung jawab. Tanggung jawab mempunyai arti menjaga dan menunaikan amanah yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Setiap manusia mempunyai amanah yang harus ia jaga. Tubuh adalah amanah, keluarga adalah amanah, pekerjaan adalah amanah dan masih banyak lagi. Ketika manusia sudah tidak mau menjaga dan menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya, yang terjadi adalah kerusakan.

Oleh sebab itu, alangkah lucunya ketika ada orang yang tidak sanggup menjaga sebuah amanah, tetapi meminta amanah itu diberikan kepadanya. Apa yang terjadi ketika yang dinamakan amanah itu adalah sebuah masyarakat yang majemuk dalam hal keyakinan, budaya dan pikiran?

Hmmm, sepertinya terlalu berat membahas itu, lebih baik kita membahas tentang menjaga amanah sebagai bentuk kedewasaan saja. Tanggung jawab atau menjaga amanah ini adalah salah satu ciri yang membedakan seorang dewasa dengan seorang yang belum dewasa. Semakin dewasa seseorang, semakin bertanggung jawablah dia. Sebab, dia mengetahui bahwa segala sesuatu ketika dijaga dan ditunaikan dengan sebaik-baiknya, niscaya mendapat hasil yang baik (kecuali Allah subhanahu wa Ta’ala berkehendak lain).

Seperti petani yang menjaga tanamannya, dia rawat dengan sebaik-baiknya. Dia jauhkan dari hama dan burung yang mengganggu. Hasilnya, dia menunggu dengan optimis. Begitupun amanah, ketika dia jaga dengan baik-baik, dia tunaikan dengan baik-baik, hasilnya bisa dia petik dengan penuh optimis. Tapi orang yang bijaksana, tidak begitu mementingkan hasil. Mereka bertanggung jawab karena memang mereka mencintainya sebagai sebuah proses.

Ciri yang kelima adalah kepercayaan diri. Saya tidak menyebutkan percaya diri berarti percaya dengan kemampuan diri sendiri. Saya lebih senang mendefinisikannya sebagai sebuah harapan positif bahwa kita bisa melakukan sesuatu. Ini sebagai sebuah bentuk kerendahhatian kita terhadap Allah subhanahu wa Ta’ala, sebab segala sesuatu adalah milikNya, segala yang kita dapatkan adalah karena karuniaNya.

Berbicara mengenai kepercayaan diri, CR Snyder, professor klinis dari University of Kansas, saat meneliti 200 mahasiswa tingkat awal menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki harapan positif memiliki prestasi lebih baik dan mampu menyelesaikan kuliah lebih cepat daripada mahasiswa yang berpikiran negatif terhadap masa depan mereka. Selain itu, Lewis Curry, Phd, profesor psikologi olahraga dari University of Montana, menguji 106 atlet perempuan, menemukan bahwa atlet yang sukses dalam pertandingan adalah mereka yang memiliki harapan positif terhadap prestasinya. Sebaliknya, mereka yang berpikiran negatif menghasilkan sikap pesimis, dan cenderung gagal meraih hasil yang gemilang.**

Begitupun terhadap orang yang ingin menjadi lebih dewasa, harus mempunyai harapan positif untuk itu. Sebab, hal tersebut merupakan salah satu kekuatan dan pondasi yang diperlukan. Ketika kekuatan dan pondasi tersebut rapuh, dikhawatirkan akan ambruk. Kata ambruk adalah kiasan dari kegagalan dalam meraih kematangan. Kata ini juga bisa berarti, tidak adanya kepercayaan dari orang lain kepada kita. Bagaimana bisa kita berharap agar orang lain percaya kepada kita, sedang kepada diri sendiri saja tidak mempercayainya.

Ciri yang terakhir, berpikir secara luas. Kita pernah membahasnya beberapa bulan yang lalu. Coba Anda baca kembali.

Arti Sebuah Kegagalan

Dalam hidup,terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Dan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, akhirnya kita tahu bahwa yang kita inginkan terkadang tidak dapat membuat hidup kita menjadi lebih bahagia

Bagi banyak orang kegagalan adalah sesuatu yang buruk. Apakah betul begitu? Untuk pikiran yang dangkal, hal itu memang betul. Namun apabila kita memikirkannya lebih dalam lagi, kegagalan tidak selamanya merupakan bencana. Bisa jadi, dengan kegagalan Tuhan mengingatkan kita bahwa kapasitas kita belum cukup untuk menerima kesuksesan. Barangkali Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa masih banyak hal yang harus kita pelajari, yang mana kalau kita sukses padahal kemampuan kita masih dangkal, kita akan terjatuh lebih dalam lagi. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang ahli investasi dari Amerika bahwa ‘orang bodoh dengan uang banyak adalah suatu fenomena yang sangat menarik’. Apakah yang akan terjadi bila orang bodoh tiba-tiba mendapatkan uang banyak? Jelas, dia akan menghabiskannya tanpa perhitungan hanya untuk barang-barang konsumtif dan kembali mengalami kesulitan keuangan karena kemungkinan besar barang-barang konsumtif tersebut akan dia beli dengan cara kredit. Apakah dia pantas disebut orang kaya? Jelas tidak, orang yang betul-betul kaya tahu betul apa yang akan dia perbuat dengan uangnya dan akan mengembangkannya lebih banyak lagi.

Poin utamanya adalah kesuksesan yang kita terima akan selalu sesuai dengan kapasitas diri kita. Jika kita menerima kesuksesan di luar kapasitas diri, malah kita akan jatuh lebih dalam dan gagal lebih parah. Maka dari itu, jangan terlalu mendramatisir kegagalan. Bisa jadi dengan kegagalan Tuhan menyelamatkan kita dari kegagalan yang lebih parah. Yang perlu kita fokuskan adalah bagaimana caranya agar kita bisa berkembang secara pribadi untuk layak menjadi orang yang betul-betul sukses sehingga kesuksesan kita bisa bertahan lama dan semakin berkembang.

Hidup ini penuh dengan rintangan dan perjuangan

seiring dengan perjalanan hidup,,sering kali kita dihadapkan pada suatu masalah dan hal ini kita harus bisa memilah dan memilih untuk menuju masa depan kita....
Hidup ini terurai menjadi rangkaian detik-detik.
Dan di tiap detiknya, manusia selalu dihadapkan pada beragam pilihan.

Ada orang yang memutuskan apa yang terbaik buat dirinya di suatu detik, namun ia menyesal setelah di detik berikutnya ternyata ia temukan apa yang menjadi impiannya.
Ada pula orang yang cukup bersabar menunda kebahagiaan di suatu detik, karena ia merasa yakin bahwa penderitaan di detik itu akan terlunasi dengan perwujudan impiannya di detik berikutnya.

Dan, sebagian lagi adalah orang-orang yang sangat berani, melepaskan atau mengorbankan bahagia yang sedang direngkuhnya di suatu detik, demi menyongsong harapannya yang lebih cerah, yang ia sangat yakini akan diperoleh di detik-detik berikutnya.
Di detik sebelah manakah kita kini?

Dan termasuk manusia manakah kita dalam menghirup setiap detik yang ada? Dalam setiap keberanian membuat pilihan? Hingga kelak tak ada lagi detik yang tersisa di ujung perjalanan kehidupan?

Kunci Hidup Sukses

"Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu..." (Q. S Ali Imran (3) : 160)

Bagaimana kita memahami pengertian hidup sukses? Dari mana harus memulainya ketika kita ingin segera diperjuangkan?

Tampaknya tidak terlalu salah bila ada orang yang telah berhasil menempuh jenjang pendidikan tinggi, bahkan lulusan luar negeri, lalu menganggap dirinya orang sukses. Mungkin juga seseorang yang gagal dalam menempuh jalur pendidikan formal belasan tahun lalu, tetapi saat ini berani menepuk dada karena yakin bahwa dirinya telah mencapai sukses. Mengapa demikian? Karena, ia telah memilih dunia wirausaha, lalu berusaha keras tanpa mengenal lelah, sehingga mewujudlah segala buah jerih payahnya itu dalam belasan perusahaan besar yang menguntungkan.

Seorang ayah dihari tuanya tersenyum puas karena telah berhasil mengayuh bahtera rumah tangga yang tentram dan bahagia, sementara anak anaknya telah ia antar ke gerbang cakrawala keberhasilan hidup yang mandiri. Seorang kiai atau mubaligh juga berusaha mensyukuri kesuksesan hidupnya ketika jutaan umat telah menjadi jamaahnya yang setia dan telah menjadikannya sebagai panutan, sementara pesantrennya selalu dipenuh sesaki ribuan santri.

Pendek kata, adalah hak setiap orang untuk menentukan sendiri dari sudut pandang mana ia melihat kesuksesan hidup. Akan tetapi, dari sudut pandang manakah seyogyanya seorang muslim dapat menilik dirinya sebagai orang yang telah meraih hidup sukses dalam urusan dunianya?

Membangun Fondasi
Kalau kita hendak membangun rumah, maka yang perlu terlebih dahulu dibuat dan diperkokoh adalah fondasinya. Karena, fondasi yang tidak kuat sudah dapat dipastikan akan membuat bangunan cepat ambruk kendati dinding dan atapnya dibuat sekuat dan sebagus apapun.

Sering terjadi menimpa sebuah perusahaan, misalnya yang asalnya memiliki kinerja yang baik, sehingga maju pesat, tetapi ternyata ditengah jalan rontok. Padahal, perusahaan tersebut tinggal satu dua langkah lagi menjelang sukses. Mengapa bisa demikian? ternyata faktor penyebabnya adalah karena didalamnya merajalela ketidakjujuran, penipuan, intrik dan aneka kezhaliman lainnya.

Tak jarang pula terjadi sebuah keluarga tampak berhasil membina rumah tangga dan berkecukupan dalam hal materi. Sang suami sukses meniti karir dikantornya, sang isteri pandai bergaul ditengah masyarakat, sementara anak-anaknya pun berhasil menempuh jenjang studi hingga ke perguruan tinggi, bahkan yang sudah bekerjapun beroleh posisi yang bagus. Namun apa yang terjadi kemudian?

Suatu ketika hancurlah keutuhan rumah tangganya itu karena beberapa faktor yang mungkin mental mereka tidak sempat dipersiapkan sejak sebelumnya untuk menghadapinya. Suami menjadi lupa diri karena harta, gelar, pangkat dan kedudukannya, sehingga tergelincir mengabaikan kesetiaannya kepada keluarga. Isteripun menjadi lupa akan posisinya sendiri, terjebak dalam prasangka, mudah iri terhadap sesamanya dan bahkan menjadi pendorong suami dalam berbagai perilaku licik dan curang. Anak-anakpun tidak lagi menemukan ketenangan karena sehari-hari menonton keteladanan yang buruk dan
menyantap harta yang tidak berkah.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk merintis sesuatu secara baik? Alangkah indah dan mengesankan kalau kita meyakini satu hal, bahwa tiada kesuksesan yang sesungguhnya, kecuali kalau Allah Azza wa Jalla menolong segala urusan kita. Dengan kata lain apabila kita merindukan dapat meraih tangga kesuksesan, maka segala aspek yang berkaitan dengan dimensi sukses itu sendiri harus disandarkan pada satu prinsip, yakni sukses dengan dan karena pertolongan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan fondasi yang tidak bisa tidak harus diperkokoh sebelum kita membangun dan menegakkan mernara gading kesuksesan.

Sunnatullah dan Inayatullah
Terjadinya sesoang bisa mencapai sukses atau terhindar dari sesuatu yang tidak diharapkannya, ternyata amat bergantung pada dua hal yakni sunnatullah dan inayatullah. Sunatullah artinya sunnah-sunnah Allah yang mewujud berupa hukum alam yang terjadinya menghendaki proses sebab akibat, sehingga membuka peluang bagi perekayasaan oleh perbuatan manusia. Seorang mahasiswa ingin menyelesaikan studinya tepat waktu dan dengan predikat memuaskan. Keinginan itu bisa tercapai apabila ia bertekad untuk bersungguh-sungguh dalam belajarnya, mempersiapkan fisik dan pikirannya dengan sebaik-
baiknya, lalu meningkatkan kuantitas dan kualitas belajarnya sedemikian rupa, sehingga melebihi kadar dan cara belajar yang dilakukan rekan-rekannya. Dalam konteks sunnatullah, sangat mungkin ia bisa meraih apa yang dicita-citakannya itu.

Akan tetapi, ada bis yang terjatuh ke jurang dan menewaskan seluruh penumpangnya, tetapi seorang bayi selamat tanpa sedikitpun terluka. Seorang anak kecil yang terjatuh dari gedung lantai ketujuh ternyata tidak apa-apa, padahal secara logika terjatuh dari lantai dua saja ia bisa tewas. Sebaliknya, mahasiswa yang telah bersungguh-sungguh berikhtiar tadi, bisa saja gagal total hanya karena Allah menakdirkan ia sakit parah menjelang masa ujian akhir studinya, misalnya. Segala yang mustahil menurut akal manusia sama sekali tidak ada yang mustahil bila inayatullah atau pertolongan Allah telah turun.

Demikian pula kalau kita berbisnis hanya mengandalkan ikhtiar akal dan kemampuan saja, maka sangat mungkin akan beroleh sukses karena toh telah menetapi prasyarat sunnatullah. Akan tetapi, bukankah rencana manusia tidak mesti selalu sama dengan rencana Allah. Dan adakah manusia yang mengetahui persis apa yang menjadi rencana Nya atas manusia? Boleh saja kita berjuang habis-habisan karena dengan begitu orang kafirpun toh beroleh kesuksesan. Akan tetapi, kalau ternyata Dia menghendaki lain lantas kita mau apa? mau kecewa? kecewa sama sekali tidak mengubah apapun. Lagipula, kecewa yang timbul dihati tiada lain karena kita amat menginginkan rencana Allah itu selalu sama dengan rencana kita. Padahal Dialah penentu segala kejadian karena hanya Dia yang Maha Mengetahui hikmah dibalik segala kejadian.

Rekayasa Diri
Apa kuncinya? Kuncinya adalah kalau kita menginginkan hidup sukses di dunia, maka janganlah hanya sibuk merekayasa diri dan keadaan dalam rangka ikhtiar dhahir semata, tetapi juga rekayasalah diri kita supaya menjadi orang yang layak ditolong oleh Allah. Ikhtiar dhahir akan menghadapkan kita pada dua pilihan, yakni tercapainya apa yang kita dambakan - karena faktor sunnatullah tadi - namun juga tidak mustahil akan berujung pada kegagalan kalau Allah menghendaki lain.

Lain halnya kalau ikhtiar dhahir itu diseiringkan dengan ikhtiar bathin. Mengawalinya dengan dasar niat yang benar dan ikhlas semata mata demi ibadah kepada Allah. Berikhtiar dengan cara yang benar, kesungguhan yang tinggi, ilmu yang tepat sesuai yang diperlukan, jujur, lurus, tidak suka menganiaya orang lain dan tidak mudah berputus asa.

Senantiasa menggantungkan harap hanya kepada Nya semata, seraya menepis sama sekali dari berharap kepada makhluk. Memohon dengan segenap hati kepada Nya agar bisa sekiranya apa-apa yang tengah diikhtiarkan itu bisa membawa maslahat bagi dirinya mapun bagi orang lain, kiranya Dia berkenan menolong memudahkan segala urusan kita. Dan tidak lupa menyerahkan sepenuhnya segala hasil akhir kepada Dia Dzat Maha Penentu segala kejadian.

Bila Allah sudah menolong, maka siapa yang bisa menghalangi pertolongan-Nya? Walaupun bergabung jin dan manusia untuk menghalangi pertolongan yang diturunkan Allah atas seorang hamba Nya sekali-kali tidak akan pernah terhalang karena Dia memang berkewajiban menolong hamba-hambaNya yang beriman.

"Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah membiarkan kamu (tidak memberikan pertolongan) maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal" (QS Ali Imran (3) : 160).

Bundel by  UGLY ---

Managemen Heart


Gundah gulana, suka ria, bimbang, keraguan dan keyakinan ada dalam hati, perasaan itu datang silih berganti berkejaran bak rembuklan dan matahri dan tak seorang pun mengerti dengan pasti kapan hati kita menjadisuci dan kapan terhindar dari beraneka macam dosa.

Matahari mulai terbenam mata sudah ter pejam namun dalam hati ini masih menyeruak berjuta juta angan tentang kehidupan duniawi ytang penuh dengan kehampaan dan seakan memaksa mata untuk selalu terbuka dan badan untuk selalu bergerak guna meraih kenikmatan dunia yang hanya sesat.

Kalimat diatas tadi adalah sedikit ungkapan tentang sulitnya menjaga dan mengatur hati karena hati selalu berubah bahkan lebih cepat dari hitungan detik dan second.


Semoga kita selalu dapat mengatur hati kita dengan baik dan semoga kita ttetap berada pada jalan yang benar..amin..

bahaya tafsir pluralis

Bahaya Tafsir Pluralis       

Kaum pluralis sering menggunakan pembenar surat Al Baqarah ayat 62 sebagai ayat rujukan "Pluralisme Agama". Di bawah ini Surat Al-Baqarah ayat 62 ditinjau dari segi bahasa

Oleh: Khoiruddin


Salah satu ayat pembenar yang sering dijadikan kaum pluralis memproklamirkan hukum syar’i semua agama adalah benar adalah Surat Al Baqarah ayat 62, yang artinya berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ,orang Yahudi, orang Nashroni dan orang-orang Shobiin, siapa saja yang beriman kepada Allah dan Rasulnya dan melakukan kebaikan (menurut Islam) mereka mendapat pahala disisi Nya dan tidak takut atas mereka dan tidak merasa sedih.”

Ayat inilah sering diekspolitasi kaum pluralis untuk mengkampanyekan keharusan pluralisme agama di negeri-negeri Islam dengan tujuan agar ummat Islam tidak lagi fanatisme terhadap agamanya.

Sebagaimana diketahui bersama, semenjak bergulirnya ide demokrasi dan kebebasan HAM oleh Barat, maka sejak itu pulalah lahir paham, di mana, seseorang tidak boleh mengklaim bahwa agamanya yang paling benar.

Untuk melanjutkan diskusi ini, marilah kita dudukkan makna ayat di atas kalimat demi kalimat sebagai berikut:

Pertama, orang yang beriman yaitu orang –orang yang membenarkan kepada syariat yang dibawa oleh RasulNya serta  beriman kepada allah dan hari akhir.

Kedua, orang Yahudi yakni; mereka beriman  dan berpegang teguh kepada kitab Taurat serta sunnah Nabi Musa ‘alaihis salam dan tidak mau tunduk kepada Nabi Isa ‘alaihis salam. Maka, mereka adalah kaum yang rusak.

Ketiga, orang Nashrani yaitu, mereka beriman dan berpegang teguh kepada kitab injil serta serta mengikuti syariat Nabi Isa ‘alaihis salam tetapi setelah kedatangan Nabi Muhammad shollaullahu alaihi wasallam. Namun, mereka tidak mau beriman padanya. Golongan ini juga rusak.

Keempat, orang Shobiin yaitu mereka kaum penyembah Malaikat, memegang kepada kitab Zabur dan mereka mempunyai aturan (agama) yang tetap untuk diikutinya, dan sebagian ulama’berkata mereka adalah orang-orang yang tidak bisa sampai da’wahnya  Nabi (Ibnu Katsir Juz.I halaman 105; Ath-Thabari Juz I halaman 361).

Karenanya, untuk menetapkan hukum kepada masing-masing golongan itu --Yahudi, Nashrani dan Shobiin--  dan disebut orang beriman, mereka harus mengaku iman kepada Allah dan hari akhir. Oleh sebab itu,  mereka wajib tunduk dan patuh serta mengikuti  Nabi Muhammad shollaullahu alaihi wasallam.

Tinjauan Bahasa

Al-Qur’an adalah merupakan sebuah kitab suci yang sangat istimewa. Telah beratus-ratus tahun orang mengkaji dan bahkan menelitinya. Salah satu keistimewaannya adalah, bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah melalui kajian bahasa melalui ilmu balaghah.

Huruf “INNA” dalam surat Al-Baqarah ayat 62 di atas adalah berfungsi menashobkan isim dan merafa’kan khobar. Namun huruf  di depannya tidak langsung nashob harakatnya. Melainkan terdiri dari isim mausul dan shilahnya begitu juga khobarnya “INNA” tidak langsung rafa’ i’rabnya.

Karena terdiri dari jumlah mubtada dan khobar atau musnad ilaih dan musnad dalam ilmu balaghah. Yang mana mubtada’nya terdiri dari fi’il syarat dan khobarnya tersusun dari jumlah ismiyah dengan jar majrur muqoddam sebagai jawabnya syarat. Sebagaimana diketahui, dalam bahasa Arab setiap kalimah itu mempunyai kedudukan i’rab sendiri, sehingga kedudukan isim maushul dan shilahnya itu mahal nashob (menempati) sebagai isim “INNA”.

Sedang khobar “INNA” berupa jumlah mubtada’ dan khobar yang terdiri syarat dan jawab. Ayat diatas sangat indah gaya bahasanya, agar mukhotob benar-benar tertegun sewaktu ayat-ayat Al-Quran dibacakan oleh Muhammad, sehingga sebagian dari mereka langsung percaya bahwa Muhammad benar-benar utusan Allah. Itulah hebatnya bahasa Arab.

Tidak hanya manusia yang tertegun bahkan jin pun penuh keheranan sewaktu Al-Quran dibacakan (lihat surat jin ayat 1).

Musnad ilaih atau isim “INNA” harus ma’rifat sedang jumlah isim ma’rifat itu ada 7 (Tujuh) yakni; masuknya al, isim, dhomir, ‘alam, isyaroh,  istifham, mudhof, dan isim maushul.

Dari masing-masing isim ini mempunyai nuktah (faidah) sendiri-sendiri. Adapun ma’rifatnya ayat diatas berupa isim maushul, hal ini menunjukkan suatu ketetapan yang tidak bisa lagi diragukan maknanya, karena bersambungnya antara kalimat yang satu dengan yang lainnya.

Sedangkan khobar “INNA” yang terdiri dari jumlah mubtada’ dan khobar. Mubtada’nya “fi’il syarat” yaitu “man amana” dan khobarnya jumlah dari “fa lahum aj ruhum”, sebagai jawab syarat kalimat tersebut juga terdiri dari mubtada dan khobar yang susunan kalimatnya khobar didahulukan terdiri dari jar dan majrur yang semestinya tidak boleh mendahului. Ini menunjukkan makna tersendiri yakni untuk memperkuat suatu makna. (Syarah ‘uqudul juman fi ‘ilmi ma’ani wal bayan bab musnad ilaih hal ;16 oleh Jalalluddin As-suyuthi).

Itulah hebarnya bahasa Arab disbanding bahasa lain, sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 103 yang artinya: “Dan bahwa Al-Qur’an ini adalah bahasa arab yang jelas”

Karenanya, huruf “FA’ ” dalam ayat itu merupakan jawaban “fi’il syarat”. Perlu diingat jawab ada kalanya memakai huruf “FA’ atau WAWU, dan atau dari kedua huruf tadi. Huruf  “Fa" memperjelas suatu jawaban yang pasti, karena jumlah sesudahnya berupa tarkib mubtada’ dan khobar juga, dengan muqoddamnya khobar “Fa Lahum” memberi faidahnya tersendiri. Menurut perundang-undangan bahasa Arab, disusunnya dari beberapa jumlah baik musnad ilaih dan maupun musnadnya ini mempunyai rahasia atau faidah tersendiri.

Menurut kitab, ‘Balaghoh Uquduljuman, bab ahwalul musnad halaman 31, ada beberapa rahasia mubtada’ (musnad ilaih) dari isim maushul;  Pertama, merupakan ketetapan sebuah hukum. Kedua, untuk pengagungan. Ketiga, supaya mukhotob mengerti dengan jelas. Keempat, tidak baik jika disebutkan namanya secara langsung. Kelima, untuk mengingatkan mukhotob dari kesalahan.  (Balaghoh Uquduljuman, bab ahwalul musnad ilaih halaman 16).

Jadi sebenarnya, makna  ayat Al-Qur’an itu sudah jelas gamblang. Bahwa, diperintahkan setelah datangnya Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam semua orang wajib mengikutinya dan menerima ajarannya. Karenanya, ayat di atas menjadi satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya, sebab jika dipisahkan akan menimbulkan perbedaan makna yang jauh sekali dari makna yang dimaksud.

Otoritas

Di dunia ini, disepakati otoritas dalam ilmu. Bahkan dalam ilmu studi Al-Quran pun demikian. Karenanya, ada syarat-syarat bagi seseorang yang ingin menafsirkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Dalam kitab, ‘Manna’ulqothon fi ulumil Qur’an’ (bab syurutul mufassir halaman 329) disebutkan, bahkan, seharusnya, ayat Al-Qur’an ditafsiri dengan Al-Qur’an. Kemudian dengan Al-hadits (Nabi), shahabat, tabi’in dan harus pula mengerti tentang qa’idah-qa’idah bahasa Arab dan cabang-cabangnya. Juga bersihnya keyakinan, tidak emosional dan teliti dalam memahami permasalahan.

Maka dakwaan bagi kaum pluralis bahwa ayat 62 Al-Baqoroh tadi sebagai dalil tentang semua agama benar adalah tidak berhujjah sama sekali dan mereka sengaja untuk mengkaburkan makna ayat dengan tujuan agar ummat Islam mau membenarkan agama-agama selain Islam.

Para pluralis, mereka lupa atau memang tidak tau bahwa kalam itu ada washol dan fashol dalam ayat ini adalah kalam washol buktinya kalimat berikutnya disambung dengan huruf athof  “WAWU” yang maknanya masih berhubungan dengan kalimat yang di depan. Jadi tidak bisa dipisah begitu saja maknanya (Balaghoh uquduljuman bab washol dan fashol halaman 58).

Alasan bahwa semua agama sama-sama memerintah suatu kebaikan adalah sema-mata menuruti hawa nafsunya saja, alias tidak berdasar sama sekali.

Bahkan Nabi mengatakan, “Barang siapa yang melakukan suatu amal perbuatan yang tidak ada atasnya perintahku, maka amal perbuatan itu ditolak.”

Oleh karenanya, bisa dipahami jika ada tudujan bahwa kaum pluralis sengaja membuat makna-makna dalam Qur’an dengan kemasan yang bagus dan indah untuk mendakwahkan ide-idenya agar laku dipasaran. Masuk akal jika orang yang tidak jeli dalam memahami ayat Al-Qur'an  berakibat terseret olehnya. Seperti halnya orang yang memaknai agama Islam dengan makna 'menyerahkan diri'.


Penulis adalah anggota majelis Tarjih Muhammadiyah Jawa Timur

kemunduran pendidikan islam

Apa faktor-faktor yang menjadi penyebab Kemunduran Pendidikan Islam? Seri artikel pendidikan Islam untuk anak muslim.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Alkhoirot
Pondok Pesantren Alkhoirot

Ada perbedaan pendapat tentang sejak kapan pendidikan Islam mulai mengalami kemunduran dari masa keemasannya. Sebagian sarjana berpendapat, kemunduran dan kemandekan keilmuan Islam dimulai dari abad ke-11 masehi dan seterusnya.

Sebagian yang lain mengatakan ia bermula dari abad ke-12 sampai abad ke-20. Ada yang mengatakan kemunduran Islam terjadi dari abad ke-15 atau 16 masehi mengingat masih banyaknya karya dan penemuan sarjana muslim di bidang sains dan teknologi dalam kurun waktu sebelum abad ke-16. Yang benar dari ketiga pendapat di atas tentu tergantung dari sisi mana kita memahami makna dari kemunduran itu sendiri. Namun yang jelas, semua sarjana sepakat terjadinya kemunduran pendidikan Islam terjadi sejak abad ke-16 sampai sekarang.

Pertanyaan yang tak kalah penting adalah apa faktor  utama penyebab kemunduran pendidikan dan keilmuan Islam? Berbagai pandangan muncul antara lain (a) perubahan teologi dari Mu’tazilah ke Asy’ariyah yang cenderung fatalistik; (b) pengaruh Imam Ghazali dengan pendekatan sufistiknya dan penentangannya yang keras pada filsafat; (c) serangan atau invasi musuh dari luar yang datang silih berganti menghabiskan sumber daya; (d) perdebatan intelektual yang kurang ditolerir dan (e) kebebasan berpendapat yang dibatasi.

Kemiskinan Penyebab Mundurnya Pendidikan

Ibnu Khaldun (1332-1406 M) dalam Al Muqaddimah membahas sejumlah faktor yang sangat penting untuk tercipta tumbuh-kembangnya sains dan ilmu pengetahuan lain serta hal-hal yang akan berakibat pada kemundurannya.

Ibnu Khaldun mengatakan bahwa apabila suatu profesi atau keahlian tertentu sangat dibutuhkan, maka banyak orang akan mencoba untuk mempelajarinya, begitu juga apabila tidak ada permintaan maka keahlian tersebut akan diabaikan dan hilang. Apalagi, kalau kebutuhan itu datangnya dari negara, karena negara merupakan pasar terbesar yang dapat menampung sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu, kemunduran atau kemiskinan suatu negara akan berdampak pada mundurnya keahlian.

Dalam bab lain di kitab yang sama Ibnu Khaldun mengatakan bahwa negara yang hampir bangkrut akan kekurangan tenaga ahli. Ketika sebuah negara menjadi lemah dan miskin, penduduknya berkurang, maka SDM pun hilang. Karena itu pula, tumbuh-suburnya sains berbanding lurus dengan meningkatnya kemakmuran dan besarnya peradaban suatu negara.

Ide Ibnu Khaldun itu disepakati oleh sarjana modern seperti J. Bernal. Bernal mengatakan bahwa lajunya pertumbuhan sains berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi. Begitu juga sebaliknya, masyarakat yang stagnan dan dekaden selalu bersamaan dengan periode kemerosotan aktivitas ekonomi suatu negara.

Mengapa Negara Islam Miskin?

Apabila kemiskinan menjadi penyebab utama dari kemunduran pendidikan di negara-negara Islam sejak abad ke-16 sampai sekarang, maka pertanyaan berikutnya adalah apa penyebab kemiskinan negara-negara Islam yang asalnya makmur itu?

Pandangan umum dari soal ini sangat beragam antara lain adalah terjadinya mismanajemen politik pasca era khilafah awal (abad ke-10 dan seterusnya), keterlibatan asing dengan pasung invasi dan kekuatan kolonialisme yakni Perang Salib pada abad ke-11, Empirium Mongol pada abad ke-13, Perang Salib II abad ke-15 dan empirium penjajah Eropa pada abad ke-19 dan 20.

Ahmad Y Hassan, Professor Emeritus di Institute for the History of Arabic Science (IHAS), University of Aleppo, Kanada, membagi penyebab kemunduran negara Islam dalam beberapa faktor. Yang utama adalah invasi kekuatan asing, bencana alam dan epidemik, hilangnya Perdagangan Internasional.

Invasi Asing

Sebagaimana disinggung di muka, negara-negara Islam diserang dari Timur oleh Pasukan Mongol  dan Barat oleh pasukan Salib. Antara tahun 1096 sampai 1291 tidak kurang dari tujuh kali invasi Eropa dengan nama Perang Salib dilakukan terhadap kawasan Arab; dan satu Perang Salib atas Konstantinopel (sekarang Turki). Tiga yang pertama yaitu pada tahun 1096, 1147, 1189 difokuskan pada Suriah, termasuk Palestina. Perang Salib keempat (1204) menyerang Konstantinopel, sedang Perang Salib yang kelima, keenam dan ketujuh diarahkan ke Tunisia.

Usaha perlawanan untuk mengusir invasi Pasukan Salib selama dua abad telah menguras perekonomian dan memperlemah pusat-pusat perkotaan Arab. Tugas besar itu baru selesai setelah Suriah dan Mesir bersatu di bawah Al Ayyubi dan dinasti Mamluks pasukan Salib dapat ditaklukkan dan diusir.

Pada pertengahan abad ke-13 masehi, saat pasukan Islam sedang sibuk mempertahankan diri mengusir Pasukan Salib, invasi lain datang dari Timur. Jengis Khan dari Mongolia melancarkan serangan mematikan. Kawasan Islam bagian Timur seperti Samarkand, Bukhara dan Khowarizmi jatuh ke tangan mereka. Setelah Jengis Khan meninggal pada 1227, invasi diteruskan oleh Hulagu dengan pasukan sebanyak 200.000. Pada Februari 1258 Baghdad jatuh ke tangan mereka. Khalifah Abbasiyah Al Musta’sim terbunuh dan sistem khilafah dihapus. Peristiwa ini menandai akhir dari era keemasan peradaban Islam.

Bencana Alam dan Epidemik

Bencana alam menjadi fenomena Abad Pertengahan yang juga sangat mempengarahi aspek sosial dan ekonomi. Pada 968M, kekeringan pada sungai Nil di Mesir telah menyebabkan kelaparan dan kematian sebanyak 600.000 orang. Kelaparan dengan sebab keringnya sungai Nil juga terjadi selama tujuh tahun antara 1066 sampai 1072.  Kelaparan ini menjadi permulaan dari sejumlah bencana alama yang berdampak pada dispopulasi Mesir. Pada 1201 dan 1202  kelaparan besar yang diikuti dengan epidemik dan memakan korban banyak yang meninggal kembali terjadi di Kairo.

Namun, bencana terbesar yang terjadi pada Abad Pertengahan adalah epidemik yang terjadi selama tiga tahun berturut-turut yaitu pada 1347, 1348 dan 1349 yang di Eropa dikenal dengan Black Death (Kematian Hitam) yang mengancam tidak hanya dunia Islam tapi juga Eropa. Ribuan meninggal setiap hari. Penduduk Mesir, Syria dan Irak berkurang sepertiga. Black Death disusul dengan sejumlah epidemik sampai abad ke-19.

Hilangnya Kontrol Perdagangan Dunia

Negara Islam pada abad pertengahan menguasai rute perdagangan dunia. Timur Tengah menjadi pusat perputaran ekonomi internasional. Dan itu antara lain sebabnya mereka memiliki sumber daya ekonomi yang besar.. Akan tetapi, penemuan Dunia Baru dan rute baru ke Timur telah membawa keuntungan ekonomi luar biasa bagi Eropa yang makmur dengan emas, perak, rempah-rempah dan produk lain hasil rampasan. Distribusi kekayaan antara Eropa dan kawasan Islam berubah secara drastis. Pusat perdagangan dunia pun telah berubah dari laut Mediterania dan Samudera Hindia ke laut Baltik dan Samudera Atlantik.

Bangkitnya empirium perdagangan menciptakan sebuah sistem eksploitasi di mana Eropa menjadi penyuplai produk manufaktur bernilai tinggi sementara negara-negara jajahan, termasuk negara-negara muslim, menyuplai bahan mentahnya.

Kesimpulan

Ketertinggalan dan kemerosotan pendidikan umat Islam dari era keemasan Islam pada Abad Pertengahan sampai sekarang tidak ada hubungannya dengan mazhab teologi Asy’ariah yang cenderung fatalistik; atau pengaruh Ihya Ulumuddin-nya Al Ghazali yang menyerukan umat lari ke tasawwuf. Tidak pula dari pengaruh Al Ghazali yang antipati terhadap filsafat.

Penyebab utama ketertinggalan suatu negara dalam pendidikan adalah faktor kemiskinan atau keterbelakangan ekonomi. Fakta bahwa negara-negara Islam masuk kategori negara berkembang (developing countries) dan baru menikmati kemerdekaan sekitar enam atau tujuh dekade lalu menunjukkan bahwa tidak ada satupun negara Islam yang termasuk negara maju (developed countries) yang kaya dan maju secara teknologi dan sains .

Namun demikian, pintu kemajuan masih akan selalu terbuka bagi siapa saja yang memiliki determinasi untuk belajar dari sejarah masa lalu yang akan membantu kita melihat ke masa depan.

Program "Indonesia Mengajar" Mengusung Tujuan Ganda

Makassar (ANTARA) - Rektor Universitas Paramadina Dr Anis Baswedan mengatakan program "Indonesia mengajar" mengusung tujuan ganda.

Pertama untuk mengisi kekurangan guru berkualitas di SD di daerah-daerah dan kedua untuk membekali anak-anak muda terbaik yang berpotensi menjadi pemimpin kelas dunia (world-class leader) di bidangnya dengan pengalaman hidup dan bekerja bersama rakyat kecil di pelosok Indonesia.

Hal itu dikemukakan penggagas program Indonesia mengajar, Anis Baswedan saat diterima Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Dr Idrus A Paturusi yang didampingi Wakil Rektor I, II, dan III, di Makassar, Senin.

Program Indonesia mengajar sementara ini dipilih daerah Bengkalis, Tulang Bawang Barat, Halmahera Selatan, Majene (Sulawesi Barat), dan Paser (Kalimantan Timur).

"Mereka itu berangkat menuju desa-desa terpencil bertepatan hari Pahlawan 10 November 2010," katanya.

Selama setahun mereka bertugas akan memberi inspirasi bagi anak-anak di berbagai pelosok, Kita berharap juga, Unhas menjadi rumah dan merasakan keindonesiaan mereka, ujar Anis Baswedan.

Rektor Unhas Idrus A Paturusi menyambut baik program ini dalam upaya menjaring anak-anak muda berbakat di seluruh tanah air.

Idrus memberikan contoh, para murid sekolah dasar di Papua karena kekurangan guru harus diajar oleh mereka yang justru baru tamat sekolah dasar.

Indonesia mengajar pada angkatan I menghimpun 51 alumni terbaik dari 10 perguruan tinggi di Indonesia. Ke-10 Perguruan Tinggi itu, ITB (14 alumni), UI (13), UGM (7), Unair (5), IPB, Undip, dan Unpad masing-masing tiga alumni, sementara Paramadina, ITS, dan Unhas masing-masing satu orang alumni.

Alumni-alumni ini dua di antaranya lulus dengan yudisium cumlaude yakni seorang dari jurusan Elektro ITB dan seorang lainnya dari Jurusan Manajemen Unpad Bandung. Beberapa di antaranya bahkan ada yang rela meninggalkan pekerjaan mereka yang sudah mapan. Mereka ini terdiri atas 26 orang laki-laki dan 25 perempuan.

Dilihat dari segi indeks prestasi kumulatif (IPK) 37 orang ber-IPK 3,25, dan 19 orang dengan IPK antara 2,8-3,24. Dari segi usia, 32 orang berusia 23 tahun, seorang antara 26-27 tahun, dan 18 orang berusia antara 24-25 tahun. Sebanyak 26 orang di antara mereka sudah terlibat dalam pekerjaan profesional, sementara 25 orang lainnya belum bekerja.

Dari 51 orang pengajar muda yang tergabung dalam "Indonesia Mengajar", Unhas menyumbang seorang alumninya yang tergabung dalam angkatan I/2010.

Dia adalah Yunita Ekasari Bahrun (24 th), alumni Pengembangan Wilayah Kota Teknik Arsitektur Unhas tahun 2010. Yunita rela meninggalkan posisinya sebagai Asisten Relasi Eksternal perusahaan tambang nikel PT Inco Tbk, perusahaan nikel transnasional yang sebenarnya mampu memberinya kesejahteraan materi yang sangat memadai.

Yunita merupaka finalis mahasiswa berprestasi tingkat Unhas dan termasuk wisudawan terbaik Jurusan Arsitektur periode III 2009-2010.

makna tahun baru menurut pandangan islam

 TAHUN BARU dalam pandangan Syariat Islam
  
          Moment pergantian tahun begitu sangat dinantikan oleh setiap orang.
Tak jarang diantara mereka yang menyambutnya dengan berpesta ria, meniup
terompet didetik-detik terakhir pergantian tahun dan lain-lain. Seakan moment
tahun baru merupakan moment istimewa yang tak boleh terlewatkan.
          Lalu, bagaimana pandangan menurut kaca mata syar’I dalam hal ini ?
Benarkah tahun baru harus kita sambut dengan sepecial? Semisal saling
mengucapkan ucapan selamat, lewat lisan atau tulisan yang kita tulis di kartu
ucapan tahun baru. Sedemikian istimewakah makna tahun baru bagi umat manusia?
Coba perhatikan pernyataan Al
  Imam Ibnu Tammiyah radhiaallahu anhu. “ Adapun mengucapkan selamat terhadap
syiar-syiar keagamaan orang-orang kafir yang khusus bagi mereka, maka hukumnya
haram menurut kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat terhadap
hari-hari besar mereka dan puasa mereka, seperti mengucapkan ‘ semoga hari
besar ini diberkahi atau ucapan semisalnya dalam rangka hari besar tersebut…”
          Sedang Umar bin Khatab ra berkata, terkait dengan momentum tahun baru
Masehi atau hari-hari besar lain yang merupakan hari-hari besar orang-orang
Yahudi dan Nasrani. “ Janganlah kalian mengunjungi kaum Musyrikin di
gereja-gereja ( rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka, karena
sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka” (HR. Al Baihaqi, no:18640)
  “ Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka” (
HR.Ibid. no:18641)
  Dari kedua hadist tersebut, jelaslah sudah kalau mengucapkan selamat atau
ikut serta dalam merayakan hari-hari besar kaum musyrikin ( Tahun baru, Natal,
Valentine,dll) hukumnya haram dilakukan oleh umat Islam. Karena moment tahun
baru atau moment-moment lainnya merupakan pencampuradukan antara Al Haq dan
kebathilan. Yang lebih banyak nilai mudharatnya, ketimbang sisi positifnya.
          Sebagai umat Islam tentunya kita harus konsekwen terhadap
keyakinan/akidah yang kita anut, karena sesungguhnya merayakan moment tahun
baru itu bukanlah budaya Islam, jadi janganlah sekali-kali terpengaruh dan
mengadopsinya menjadi bagian dari budaya kaum muslimin.
  “ Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu
kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri
mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” ( QS. Al-Baqarah:109)
  Coba perhatikan ayat tersebut ! Sesungguhnya, moment tahun baru itu salah
satu tipu muslihat orang-orang musyirikin untuk menyesatkan kaum muslimin dari
jalan kebenaran, jalan yang penuh dengan cahaya rahmat dan karunia-Nya. Karena
sejatinya, kaum musyirikin itu mengetahui kalau agama Islam adalah agama yang
rahmatan lil’alamin, sehingga hati mereka menjadi dengki dan berusaha
mengembalikan keyakinan kaum muslimin pada kekafiran agar jauh dari cahaya
Allah.
          “ Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang kafir
itu, niscaya mereka akan mengembalikanmu kebelakang ( Kepada kekafiran), lalu
jadilah kamu orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imron:149)
  Sahabatku, apakah kita mau menjadi orang-orang yang merugi? Tentunya, tak ada
seorang pun diantara kita yang ingin menjadi orang yang merugi dan amal
ibadahnya tertolak oleh Allah Swt. Kalau demikian, mari bersama-sama bersiaga
dalam menghalau datangnya budaya kaum musyirikin yang mereka proklamirkan lewat
liberalisme, modernitas dan premisivisme budaya.
  Pada momentum tahun baru hendaknya kita isi dengan dzikir dan takhmid kepada
Allah, karena ini jauh lebih baik ketimbang merayakannya dengan berpesta pora.
Melakukan taffakur panjang, sangat dianjurkan sebagai bahan renungan dan cermin
terhadap eksistensi kita dalam menjalankan dan menegakan syariat Islam selama
satu tahun. Mencoba mengingat balik amalan ibadah yang telah kita lakukan
selama ini, sudah baikkah kuantitas ibadah kita ? Berapa umur kita sekarang?
Masihkah kita bisa menikmati kehidupan untuk satu tahun yang akan datang?
Karena setiap waktu bergulir, maka jatah hidup kita pun berkurang.
          Seperti perkataan Iman Soyfan Tsauri “ Sesungguhnya, aku sangat
menginginkan satu tahun saja dari seluruh usiaku, seperti Ibnu Mubarak. Tapi
aku tak mampu melakukannya, bahkan dalam tiga hari sekalipun.” (Nuzhatul
Fudhala,2/655)
  Hidup didunia hanya selayang pandang, ia begitu singkat…sesingkat kilat.
Sehingga kita harus memanfaatkan waktu yang ada dengan sefisien mungkin untuk
beribadah, karena itulah hakikat hidup manusia didunia. Untuk melakukan amal
sholeh dan beribadah kepada Allah Swt.
  Bahkan Rasulullah pun bersabda terkait dengan umur manusia. “ Umur umatku
antara 60 sampai 70 tahun” (HR. Turmudzi).
          Jadi, mari kita bersama-sama memanfaatkan waktu yang tersisa dan
meningkatkan kuantitas ibadah kita kepada Allah Swt. Menjadikan momentum tahun
baru untuk mengingat mati. Bayangkan…renungkan! Bekal apa yang sudah kita
persiapkan untuk kehidupan diakhirat nanti. Apakah kita akan dimasukan kedalam
golongan yang menempati Surga-Nya, sudah cukupkah bekal kita ?
  Sahabatku, selagi masih ada waktu mari kita berbenah diri sebelum semuanya
menjadi terlambat. (Kiku)
         
ADVERTISER
  • ROXX SHARE
  • PRESENTS
  • WIDGETS
  • TEMPLATES
  • WORM TECHNIQUES
  • INSPIRATIONS

Entri Populer

Special Keywords



alhamdulilah puji syukur kehadirat Allah swt,,yang memberi segala nikmat kepada kita....
Seiring dengan perjalanan itu kami terus berusaha memaksimalkan mungkin mengadakan penyempurnaan, baik bahasa maupun isinya. Dengan adanya penyempurnaan itu, sekalipun belum sempurna, mudah-mudahan dapat mempermudah para pembaca ketika sudah membuka blog ini. Semoga blog ini dapat bermanfaat bagi pembaca maupun yang mendengarkan. Amin .

Categories

My Blog List ( DO FOLLOW )